Megamendung Yang Mendunia

28 Desember 2012, Comments: 0

batik-mega-mendung-khas-cirebonan.jpg (403×259)

Batik Indonesia Sebagai Warisan Budaya

Batik, apa yang ada dalam benak kalian tentang kata itu? Batik, adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama. Perempuan-perempuan pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini.

Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari Batik keluarga tertentu. Beberapa motif Batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif Batik tradisional hanya dipakai oleh keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Batik pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto ketika konferensi PBB.

Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asingBatikpesisir menyerap berbagai pengaruh dari luar, seperti para pedagang asing dan para penjajah. Warna-warna cerah dipopulerkan oleh etnis Tionghoa. Bangsa Eropa memberikan pengaruh motif bunga seperti tulip dan juga bentuk benda-benda seperti gedung atau kereta kudaBatik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki lambang masing-masing.

Salah satu contoh motif Batik yang sudah mendunia adalah Megamendung, merupakan ikon Batik daerah Cirebon. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI akan mendaftarkan motif megamendung ke UNESCO untuk mendapat pengakuan sebagai salah satu World Heritage.

Sebagai bukti ketenarannya, motif megamendung pernah dijadikan cover sebuah buku Batik terbitan luar negeri yang berjudul Batik Design, karya seorang berkebangsaan Belanda bernama Pepin Van Roojen. Kekhasan motif megamendung tidak saja pada motifnya yang berupa gambar menyerupai awan dengan warna-warna tegas, tetapi juga nilai-nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.

Sejarah timbulnya motif megamendung dipengaruhi oleh kedatangan bangsa Cina ke wilayah Cirebon. Dalam sejarah disebutkan bahwa, Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari Cina. Menurut Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas, dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ke-Tuhanan). Dalam dunia seni rupa Islam pada abad ke-16, konsep awan mengungkapkan dunia besar atau alam bebas bagi Kaum Sufi.

Pernikahan Sunan Gunung Jati dengan Ratu Ong Tien menjadi pintu gerbang masuknya budaya dan tradisi Cina ke Keraton Cirebon. Dengan sentuhan khas Cirebon, terjadi perbedaan antara motif megamendung dari Cina dan Cirebon. Pada motif megamendung Cina, garis awan berupa bulatan atau lingkaran, sedangkan motif megamendung dari Cirebon, garis awannya cenderung lonjong, lancip dan segitiga.

Sejarah Batik di Cirebon juga terkait dengan perkembangan gerakan tarekat yang berpusat di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Membatik pada awalnya dikerjakan oleh anggota tarekat yang mengabdi di Keraton sebagai sumber ekonomi untuk membiayai kelompok tarekat tersebut. Para pengikut tarekat tinggal di desa Trusmi dan sekitarnya. Desa ini terletak sekitar 4 KM dari Cirebon menuju arah barat daya atau menuju arah Bandung. Karena itu sampai sekarang Batik Cirebon identik dengan Batik Trusmi.

Motif megamendung pada awalnya selalu berunsur warna biru diselingi warna merah, menggambarkan maskulinitas dan suasana dinamis. Warna biru dan merah tua juga menggambarkan psikologi masyarakat pesisir yang lugas, terbuka dan egaliter. Selain itu warna biru juga melambangkan warna langit yang luas, bersahabat dan tenang serta melambangkan pembawa hujan yang dinanti-nanti sebagai pembawa kesuburan dan pemberi kehidupan. Warna biru yang digunakan mulai dari biru muda sampai biru tua. Biru muda menggambarkan makin cerahnya kehidupan dan biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan dan memberi kehidupan.

Dalam perkembanganannya, motif megamendung mengalami banyak perkembangan dan dimodifikasi sesuai permintaan pasar. Motif megamendung dikombinasi dengan motif hewan, bunga dan lainnya. Sebenarnya penggabungan motif sudah dilakukan oleh para pembatik tradisional, namun perkembangannya menjadi sangat pesat dengan adanya campur tangan dari para perancang busana. Sekarang motif megamendung berkembang menjadi beragam warna.

Wujud motif megamendung yang dulunya hanya dikenal dalam wujud kain Batik, sekarang bisa ditemui dalam berbagai macam bentuk barang. Ada yang berupa hiasan dinding, lukisan kaca, produk-produk interior seperti ukiran kayu maupun produk-produk peralatan rumah tangga seperti sarung bantal, sprei, taplak meja dan lain-lain. Salah satu mall di Jakarta Selatan, menggunakan wall paper motif megamendung di tiang penyanggah food courtnya.

Saat ini juga sedang populer motif  Batik yang dipadu padan dengan logo tim sepakbola dunia.

Beberapa tahun yang lalu pakaian batik banyak ditemui di pesta-pesta atau acara resmi, tapi saat ini mulai dari anak sekolah hingga para pekerja bahkan model dan artis pun mengenakan Batik dalam segala suasana. Mari lestarikan kekayaan budaya negeri yang sudah mendunia ini.

[diambil dari berbagai sumber]

Rizky

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *