Karya Batik Trusmi Difasilitasi

11 Januari 2013, Comments: 0

Batik-trusmi-cirebon-indonesia-murah-banget-bangetPemerintah Kabupaten Cirebon akan terus memfasilitasi karya batik Trusmi untuk mendapatkan hak paten. Hal itu sesuai dengan pesan khusus istri Wakil Presiden RI, Herawati Boediono Kepada Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Cirebon Sri Heviyana Supardi saat mengunjungi kawasan Batik Trusmi, Senin (26/11).

Selain Heviyana, dalam kunjunga tersebut Herawati juga tampak ditemati Ketua Yayasan Batik Jawa Barat Sendy Ramania Yusuf dan Bupati Cirebon Dedi Supardi dan sejumlah pejabat dan jajaran Muspika Kabupaten Cirebon. Namun, Herawati rupanya enggan diliput wartawan dalam kegiatan tersebut. Alhasil, awak media yang datang ke lokasi tidak bisa mewawancarai Herawati dan hanya bisa mengambil gambar dirinya dari jarak jauh.

Seusai kunjungan Herawati, Heviyana mengatakan, secara khusus Herawati berpesan kepadanya untuk terus melestarikan batik Trusmi. “Beliau menilai batik Trusmi sebagai warisan budaya dan aset yang harus benar-benar dijaga,” ujarnya.

Menanggapi pesan tersebut, Heviyana menegaskan, Dekranasda bersama Pembak Cirebon telah melakukan berbagai upaya promosi untuk memperkenalkan batik Trusmi ke semua daerah baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, saat ini Pemkab Cirebon juga telah mendaftarkan sekitar seratus motif batik Trusmi untuk mendapatkan hak paten.

Langkah tersebut disambut baik oleh Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengrajin Batik Kabupaten Cirebon, Rukadi Suminta. Terlebih ia tahu betul bahwa untuk mendapatkan hak paten, pengrajin harus mengeluarkan uang Rp 2-5 juta. “Bantuan ini sangat berarti bagi pengrajin batik Trusmi,” katanya.

Terkait kunjungan Herawati, Rukadi mengaku bangga dan merasa ada pengakuan khusus dari pemerintah pusat akan keberadaan batik di kawasan Trusmi. Namun, ia menyayangkan kunjungan tersebut kebanyakan dilakukan ke showroom batik besar. Sementara masih ada lokasi-lokasi pengrajin batik kecil yang butuh perhatian.

Selain itu, Rukadi juga menyangkan masih buruknya akses jalan ke kawasan trusmi yang masih terbilang sempit dan tidak semua beraspal. Berdasarkan pengamatan “PRLM”, Herawati memang harus bergelut dengan jalanan yang becek dengan sejumlah kubangan air saat berjalan kaki dari satu showroom ke showroom lain di Trusmi.

Sebagai kawasan wisata belanja, budaya dan religi, kata Rukadi, kawasan trusmi seharusnya lebih diperhatikan dari segi infrastruktur. Meski demikian, ia mengaku maklum jika pemerintah mengalami kesulitan. “Memang harga tanah di kawasan ini sudah mencapai Rp 5-6 juta per meter. Ini mungkin menjadi kendala tersendiri bagi pemerintah dalam melakukan perluasan akses jalan,” katanya

Sumber: karya

Rizky

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *