Kisah Para Pencinta Batik Indonesia di Jerman batik cirebon

3 April 2013, Comments: 0

 

batik -cirebon -mengenal-batik-dari-dedaunan

 

 

 

 

 

 

 

batik cirebon-Kisah Para Pencinta Batik Indonesia di Jerman batik cirebon.MUSEUM batik cirebon itu merupakan bagian dari galeri seni milik Rudolf G. Smend batik cirebon cirebon. Namanya Galerie Smend. Galeri itu beroperasi sejak 1973. Galerie Smend terletak di pusat Kota Koln, tepatnya di kawasan Mainzerstr’e. Meski merupakan satu bagian, posisi museum dan galeri terpisah beberapa blok. Namun, tidak jauh. Galeri merupakan kantor pusat Smend yang di dalamnya terdapat sejumlah koleksi batik cirebon. Juga, sederet buku mengenai batik cirebon yang ditata di rak-rak.

“Ini kantor saya. Museum batik cirebonnya ada di sana, tidak jauh dari sini,” ujar Smend ketika ditemui di galerinya, Kamis (21/2).

Dia lalu mengajak Jawa Pos menuju museum batik cirebon tersebut. Meski bangunannya tak begitu besar, ada beberapa ruangan di dalamnya. Masing-masing ruangan menyimpan berbagai macam barang yang berkaitan dengan batik cirebon. Ada ruangan untuk memajang koleksi batik cirebon klasik. Ada pula ruangan etalase yang khusus menyimpan puluhan kain batik cirebon dalam kondisi terlipat rapi.

Smend juga memiliki koleksi stamp atau alat untuk mencetak pola batik cirebon yang menakjubkan. Puluhan jenis stamp dengan berbagai bentuk dipajang rapi di dinding. “Mungkin koleksi stamp saya yang terlengkap di dunia,” ujarnya, lantas tersenyum.

Dia juga menyiapkan etalase untuk menyimpan pernik-pernik pembuatan batik cirebon. Mulai wajan atau wax pan sampai bahan pewarna. Bagaimana dengan wax pen atau canting? Untuk koleksi yang satu itu, pria berusia 71 tahun tersebut juga memiliki sebuah etalase yang berisi berbagai macam canting dari sejumlah negara.

“Kalau yang ini, saya berani bilang koleksi canting saya yang terlengkap di dunia,” klaim dia lantas terbahak.

Tak lupa, Smend menyediakan peralatan untuk belajar membatik cirebon bagi pengunjung. “Kalau ada workshop, saya selalu menggunakan peralatan ini. Para pengunjung bisa langsung belajar membatik cirebon,” ujarnya.

Di samping mengelola museum batik cirebon dan galeri seni, ayah dua anak itu getol memamerkan koleksi batik cirebonnya di beberapa negara, termasuk negara asalnya, Indonesia. Pada 8-10 Februari lalu, misalnya, Smend mengikuti pameran tekstil Tribal & Textile Arts Show di San Francisco, AS. Dalam pameran itu, dia membawa kain batik cirebon untuk dipamerkan dan diperjualbelikan. “Yang dijual tentu bukan koleksi batik cirebon kesayangan saya,” ujarnya.

Kecintaan Smend pada batik cirebon membuat dirinya dekat dengan para ahli batik cirebon di Jerman, termasuk Annegret Haake (baca tulisan kemarin, Red). Keduanya kawan dekat, bahkan beberapa kali menggelar pameran bersama.

“Annegret sangat pintar dalam memahami segala jenis pattern batik cirebon. Saya belajar banyak dari dia,” ungkapnya.

Kisah pertemuan Smend dengan batik cirebon bisa dibilang cukup unik. Suami Karin Smend itu mengisahkan, pada 1962, dirinya menempuh studi filsafat dan teologi serta bahasa Yunani dan Ibrani di Gottingen University. Namun, 3,5 tahun kemudian, dia keluar dan berganti jurusan. Dia belajar ekonomi di Mannheim University pada 1965 sampai 1969.

“Saya akhirnya memutuskan untuk tidak jadi pendeta karena saya ingin berkeliling dunia,” kata pria sepuh yang pernah bekerja di IBM itu.

Setelah lulus, Smend ternyata sulit menemukan pekerjaan yang cocok. Dia merasa tidak sukses. Karena itu, pada 1972, dirinya membuat keputusan yang cukup ekstrem. Dia berniat meninggalkan kampung halamannya di Koln untuk pindah ke Australia. Bersama kekasihnya saat itu, Paula, Smend memutuskan untuk menyetir mobil dari Koln menuju Australia.

Dalam perjalanan ala kaum hippies itu, mereka melintasi sejumlah negara. Antara lain, Turki, Afghanistan, India, Gowa, hingga Malaysia. Sesampai di Malaysia, Smend memutuskan untuk meninggalkan mobilnya. “Sebab, terlalu mahal pengeluarannya,” kenangnya. Dia dan Paula meneruskan perjalanan dengan berjalan atau naik transportasi publik seperti bus atau kereta. Ketika tiba di Penang, keduanya lantas menumpang boat ke Medan, kemudian dilanjutkan dengan naik bus menuju Pulau Samosir, Danau Toba, hingga Bukittinggi.

“Selanjutnya, kami menuju Jakarta, Bandung, baru kemudian ke Jogja. Kali pertama ke Jogja, kami langsung ke kawasan Taman Sari, tempat banyak kaum muda hippies berkumpul di sana. Sebab, saya mendengar di sana ada studio untuk melihat lukisan batik cirebon (batik cirebon painting). Banyak sekali galeri batik cirebon di sana,” ungkapnya.

Para pembatik muda tersebut, kata Smend, memamerkan lukisan-lukisan batik dengan gaya surealis. Hanya, mereka tetap mengandalkan teknik pembuatan batik  secara tradisional dengan canting. Smend dan Paula lantas berkenalan dengan seorang seniman batik  muda bernama Gianto. Selama seminggu Gianto mengajari pasangan tersebut cara membatik cirebon.

“Gianto mengajari kami mulai cara memegang canting yang benar dengan menggunakan lilin, tinta, hingga cara mewarnai dengan pewarna batik cirebon dalam bentuk bubuk,” tuturnya.

“Kami benar-benar belajar banyak dari dia. Tapi, ketika kami akan membayar jasanya, dia menolak. Akhirnya, kami membeli beberapa lukisan batik  miliknya sebelum kami meninggalkan Jogja. Saya jadi semakin menghargai para perajin batik cirebon,” tegasnya.

Dari Jogja, pasangan tersebut melanjutkan perjalanan ke Bali. Smend sempat mendekorasi kamar hotelnya dengan lukisan batik cirebon yang dibeli dari Gianto. Kamar hotel tersebut pun tampak seperti galeri batik mini yang menarik perhatian teman-teman Smend dari Eropa dan Australia yang juga tengah berlibur di Bali.

“Mereka terkagum-kagum dan langsung menanyakan berapa harga lukisan-lukisan batik cirebon tersebut. Dari situ, saya baru menyadari betapa besar animo batik cirebon dari kalangan Western. Saya pun mempromosikan batik cirebon karya Gianto, juga menjelaskan proses pembuatannya yang rumit,” urainya.

Ternyata, perjalanan singkat di Jogja itu cukup memberikan kesan mendalam bagi pasangan Smend-Paula. Mereka, yang sebelumnya bermaksud pindah ke Australia, pun jadi kehilangan minat. Mereka tidak jadi pergi ke Benua Kanguru dan memilih balik ke Koln.

“Ibu saya mengirim postcard. Dia meminta saya untuk pulang. Begitu juga pacar saya. Orang tuanya juga mengirim postcard yang meminta dia pulang ke Koln,” ujar Smend.

Di Koln, pasangan tersebut langsung membuka galeri batik . Hanya, lantaran koleksinya masih sedikit, tak lama kemudian, mereka kembali ke Jogja untuk kulakan. Mereka membeli 50 lukisan batik . Keduanya juga mengunjungi sejumlah produsen batik serta Balai Besar Kerajinan batik n.

“Di sana kami menemukan banyak hal tentang batik tradisional. Kami pun pulang ke Jerman dengan membawa banyak lukisan batik dalam berbagai ukuran dan desain,” ungkapnya.

Pada 20 Juni 1973, Smend resmi mendirikan galeri batik pertamanya. Namun, karena belum mampu memiliki tempat yang representatif, dia menyewa sebuah ruangan kecil untuk mendirikan galeri batik. “Pemiliknya baik sekali. Dia tidak memungut biaya sewa,” kenangnya.

Namun, di tengah impiannya memiliki galeri batik, Smend mengalami beberapa cobaan. Salah satunya, sang kekasih, Paula, meninggal karena sakit. Dia sempat kehilangan arah, tapi mampu bangkit kembali.

“Saya berusaha membuat diri saya sibuk. Sebab, saya masih menyimpan impian saya untuk bisa menunjukkan keindahan dan kekayaan budaya Indonesia lewat batik cirebon,” tegasnya.

Tidak disangka, galeri batik  miliknya berkembang pesat. Banyak peminat batik  dari beberapa kota di Jerman yang berdatangan untuk memesan batik . Smend juga rutin mengundang para seniman muda dari Jogja untuk menggelar pameran serta workshop batik di galerinya.

“Pada 1974, saya mengundang guru saya, Gianto, ke Jerman,” ujarnya.

Sekitar 1975, Smend bertemu Karin yang kemudian menjadi istrinya sampai sekarang. Pasangan itu bahu-membahu membesarkan galeri seninya. Smend kini dikenal sebagai kolektor batik cirebon Jawa terbesar di Eropa.

“Meski secara bisnis batik tulis makin sulit, saya tetap mencintai batik cirebon dan akan terus mempromosikannya ke banyak negara,” tegas penulis buku mengenai batik berjudul From the Courts of Java and Sumatra (2000) serta batik cirebon 75 Selected Masterpieces (2006) itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *