Sulitnya Membatik, Hargailah Perajin Batik! Batik Cirebon

20 Mei 2013, Comments: 0

batik cirebon batik indonesia murahBatik Cirebon-Sulitnya Membatik, Hargailah Perajin Batik!  Batik Cirebon.“SULIT juga ya…” Kalimat itu langsung terlontar saat beberapa orang mulai meletakkan canting di atas kain putih berukuran 40×40 centimeter. Apalagi saat harus membentuk pola yang seimbang, mereka langsung merasa kesulitan. Yang terlihat akhirnya, kain putih itu memang penuh dengan gambar, namun banyak garis yang putus dan gumpalan malam di mana-mana.

Batik Cirebon Itu terlihat dari workshop membatik yang menjadi salah satu kegiatan dalam peringatan Hari Batik Nasional yang digelar Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) bersama berbagai komunitas.

Mengetahui sulitnya membatik dengan cara tulis, memancing pertanyaan apakah masyarakat semakin menghargai hasil karya pengrajin atau yang penting memakai motif batik meski itu adalah hasil pabrik tekstil? Setelah dua tahun ini batik ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia oleh UNESCO, apakah itu membuat pengrajin semakin sejahtera?
Ane Nurhayati (28) mengakui, setelah mencoba langsung saat workshop, ia semakin menyadari sulitnya pengrajin batik tulis menyelesaikan karyanya. “Saya jadi lebih suka batik tulis karena kesulitan pembuatannya itu. Tetapi memang harganya mahal,” kata dia yang terbiasa berbatik setiap Jumat itu.
Itu pun diakui Syahrul Fidya (25), warga Jakarta yang ikut meramaikan peringatan bertajuk “Aksi Ekspresi Cinta Batik Jawa Barat”. Dikatakannya, pengrajin batik haruslah sabar dalam mebuat karyanya dan harus sabar juga untuk menahan diri dari gempuran produksi tekstil bermotif batik.

Batik Cirebon Ketua YBJB Sendy Yusuf mengatakan, para pengrajin dan pengusaha batik memang sedang menghadapi gempuran produksi tekstil bermotif batik yang harganya jauh lebih murah dibandingkan batik tulis, batik cap, atau kombinasi cap dan tulis. Apalagi dengan adanya perdagangan bebas, gempuran pun datang dari produsen China Batik Cirebon.

“Tetapi perdagangan bebas itu adalah kebijakan pemerintah. Karena itu, kami hanya bisa menyarankan ke industri supaya jujur untuk mengatakan itu adalah produk tekstil bermotif batik. Jangan mengatakan batik halus, padahal printing,” tuturnya.

Untuk masyarakat, ia menyatakan senang karena tingginya apresiasinya terhadap batik. Dengan gempuran produk tekstil itu, setidaknya, kata dia, masyarakat tetap menggunakan hasil tekstil dalam negeri Batik Cirebon. “Yah, bisa dibilang itu masih bisa dimaafkan karena sama-sama produk dalam negeri, karena kita tidak bisa melarang printing,” ucapnya.

Batik Cirebon Apresiasi masyarakat yang tinggi terhadap batik jugalah yang membuat jumlah pengrajin di Jabar ternyata semakin meningkat. Sendy mengatakan, setidaknya sudah ada 6.000 pengrajin dan ratusan pengusaha batik Batik Cirebon.

Tiga tahun lalu, Jabar pun hanya memiliki 10 kabupaten/kota sebagai wilayah pengrajin batik. Ada di antaranya yang hidup segan, mati tak mau. Tetapi pada 2011, tercatat sudah 23 kab/kota yang memproduksi batik dengan ciri motifnya masing-masing Batik Cirebon.
“Yang belum adalah Kota Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok. Mereka sudah memiliki ciri motifnya sendiri, tapi karena diproduksi dengan printing, kami tidak bisa menyebutnya sebagai batik,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *