Mantel batik dari Musa Widyatmodjo Batik Cirebon

12 Juni 2013, Comments: 0

batik-cirebon-cap Batik Cirebon – Mantel batik dari Musa Widyatmodjo Batik Cirebon.Perancang mode Musa Widyatmodjo tidak ingin motif batik hanya identik dengan kemeja pada busana pria.

Saat memamerkan karyanya pada “ECOBATIK Signature Collection”, Musa membuat coat, mantel, untuk pria sebatas lutut dari kain batik yang diberi sedikit aksen bahan sewarna denim pada bagian depan. Bahan sewarna denim itu dipadukan dengan kain batik berwarna indigo.

Selain coat indigo, untuk pagelaran busana batik ramah lingkungan itu Musa juga membuat coat berwarna coklat dengan model kerah yang dilipat. Sama seperti coat sebelumnya, rancangannya untuk busana pria ini juga dibuat sepanjang lutut Batik Cirebon.

Tak hanya mantel, Musa juga menampilkan variasi kemeja lengan pendek motif batik, seperti kemeja pendek dengan model lengan dilipat dan diberi aksen kancing. Untuk model kemeja lengan panjang, Musa menampilkan warna-warna yang lazim digunakan, seperti merah marun dan paduan antara coklat tua dengan krem.

“Saya banyak pakai katun dan linen. Motifnya sangat natural buat Indonesia, seperti parang tapi lebih kontemporer,” jelas Musa tentang tema “Natural Society” yang diusungnya Selasa sore.

“Potongannya sederhana. Unsur fashion-nya ada dalam styling dan detailing,” tambahnya.

Ramah lingkungan

Batik Cirebon Dalam desainnya kali ini, Musa menggunakan batik dari program Clean Batik Initiative (CBI) yang digagas oleh Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (Ekonid).

Salah satunya, Musa bekerja sama dengan Tomi Ardianto, perajin batik dari Pekalongan, Jawa Tengah. Tomi menjelaskan dirinya memang menggunakan pewarna alami pada kain batik buatannya. Ia pun memanfaatkan limbah organik, seperti dedaunan, untuk menjadi pewarna pada batiknya.

Selain menggunakan bahan alami, Tomi juga berusaha menggunakan cara-cara yang ramah lingkungan dalam proses membatik. Salah satunya, ia menggunakan penerang dari botol yang diisi air dan diberi pemutih pakaian alih-alih menggunakan lampu.

“Itu kalau kena cahaya ruangan kayak pakai lampu,” jelas Tomi saat ditemui di acara yang serupa.

Ia pun telah mengganti kompor minyak tanah yang dulu biasa dipakainya dengan kompor listrik. Satu kompor minyak yang dipakai untuk membatik mmenghabiskan satu liter minyak tanah per hari, atau lebih, tergantung dari proses yang dijalankan.

“Itu menurunkan cost gede banget. Seminggu per kompor kira-kira Rp 50.000. Itu bisa diwakili sebulan dengan kompor listrik,” katanya tentang penghematan yang dilakukannya itu Batik Cirebon.

Musa tergugah untuk menggunakan batik ramah lingkungan dalam karyanya karena menurutnya itu adalah batik yang memiliki cerita mulai dari proses pemilihan bahan baku hingga saat pewarnaan.

“Cerita dibalik itu sangat indah,” tuturnya.

Batik Cirebon Ia pun mengakui menemui tantangan saat menggarap kain batik ramah lingkungan tersebut. Menurutnya, selain warna yang terbatas dan tidak mencolok, dari segi bahan, kain tersebut tidak dirancang untuk membuat atasan, tetapi misalnya sarung. Ia pun tertantang untuk membuat atasan untuk pria dari bahan tersebut.

“Bagi saya, kreatif adalah mengoptimalkan keterbatasan,” tutupnya.

Selain Musa Widyatmodjo, perancang Carmanita, Lenny Agustin, Caterina Hapsari, dan Frans dari Batik Fractal juga turut menampilkan karya Ecobatik mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *