Membuat Batik Madura Pesanan SBY Batik Cirebon

6 Juni 2013, Comments: 0

batik-cirebon-mesin-pencetak-batikBatik Cirebon-Membuat Batik Madura Pesanan SBY Batik Cirebon.Siti Maemonah merupakan generasi keempat yang menekuni usaha batik di Madura. Berawal dari usaha keluarga sejak zaman Belanda, Maemunah telah akrab dengan kain terutama kain batik tulis.

Maemunah mengaku, dulu keluarganya hanya membuat batik saja, dan belum dijual besar-besaran. Lalu sejak 1996, wanita berkulit putih ini mulai berdagang batik. Tak hanya suka batik tulis, Ia pun mengoleksi kain lama yang berusia tua Batik Cirebon.

“Ini bisnis keluarga. Sekarang sudah generasi keempat. Dulu kami hanya membuat saja, dan sekarang mulai berdagang. Bagi saya batik suatu kesenangan. Saya suka koleksi kain. Dari kesenangan baru uang,” ujar Maemonah, saat ditemui, Jumat (31/5/2013).

Batik Cirebon Maemonah mengatakan, ketika memulai dagang usaha batik dengan modal Rp5 juta. Ia mendapatkan modal awal dari tenaga sukarela kerja terdidik (TSKT) pada 1996. Saat itu, Ia juga sambil mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Dari hanya modal Rp5 juta, Maemonah dapat menghasilkan omset Rp300 juta per bulan. Batik tulis yang dijual mulai dari harga Rp60 ribu-Rp9juta. “Omset sekitar Rp300 juta per bulan,” ujar Maemonah.

Setelah usaha berkembang, modal sempat menjadi kendala utama untuk dagangbatik . Apalagi Maemonah mulai memasarkan batik nya ke wilayah di luar Jawa Timur. Namun, kendala itu tidak menjadi masalah setelah usaha batik tulis Maemonah menjadi mitra binaan PT SemenIndonesia Tbk pada 2001.

“Bantu permodalan oleh Semen Indonesia. Setiap tiga tahun ada bantuan permodalan yang pertama Rp15 juta, lalu Rp30 juta, dan Rp100 juta, ” ujarnya.

Batik Cirebon Menurut Maemonah, pemasaran dan persaingan ketat menjadi tantangan yang dihadapinya. Apalagi sekarang batik semakin dikenal dan sudah dipakai sehari-hari oleh masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, untuk menjaga agar batiknya tetap dikenal dan diminati masyarakat, Maemonah terus menjaga kualitas batik. Untuk itulah ia selalu melakukan kontrol terhadap hasil para pengrajin batik. Selain itu, urusan desain masih dipegang penuh oleh dirinya.

Dari hanya memiliki tiga pegawai, kini Maemunah memiliki 400 pegawai. Seluruh pegawainya dibagi menjadi enam kelompok, yang masing-masing memiliki ketua kelompok.
Agar batik produknya semakin dikenal masyarakat, Maemunah gencar melakukan promosi dengan mengikuti pameran di dalam negeri dan luar negeri.

Batik Cirebon Kini, Maemunah telah memiliki enam galeri. Usaha batik tulis Maemunah dengan label Pesona Batik Madura ini telah membuka galeri di Grand Indonesia, Jakarta, Grand Surabaya, Yogyakarta, dan lainnya.

Menurut Maemonah, salah satu kelebihan batik tulis Madura terletak pada warna dan coraknya yang cerah. Apalagi konsumen yang berasal dari Jepang menyukai warna terang Batik Cirebon.

Asal tahu saja, 30 persen penjualan batik tulis Maemunah dipasarkan ke Jepang. “Sejak 2004, kami masuk ke Jepang. Penjualan 30 persen ke sana, selebihnya ke Jakarta, Bali dan Yogyakarta, ” kata Maemunah.

Menurut Maemonah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah memesan batik tulisnya. Kalangan artis seperti Ayu Azhari pun pernah membeli batik tulisnya. “Kalau Pak SBY memesan ketika ada acara khusus,” tuturnya.

Untuk terus membuat batik tulis baik, Maemonah mengatakan, dirinya juga belajar teknik pewarnaan dengan Edward Hutabarat, salah seorang desainer terkenal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *