Merintis Usaha Batik Pekalongan Sejak Duduk di Bangku Kuliah Batik Cirebon

8 Juni 2013, Comments: 0

batik cirebonBatik Cirebon-Merintis Usaha Batik Pekalongan Sejak Duduk di Bangku Kuliah Batik Cirebon.Eddywan yang menjadi mahasiswa Undip sejak tahun 1978, mulai merintis usaha batik Pekalongan di kota Semarang pada tahun 1980. Secara kebetulan Eddywan yang asli kelahiran Kota Batik Pekalongan itu telah memiliki sedikit pengetahuan tentang bisnis batik yang diturunkan dari orang tuanya yang juga bekerja di industri kerajinan batik Batik Cirebon.

Batik Cirebon

batik-cirebon-capBagi Eddywan, menjadi mahasiswa bukanlah halangan untuk merintis dan mengembangkan kegiatan usaha batik. Lebihlebih perguruan tinggi tempat ia menuntut ilmu, bukanlah perguruan tinggi kelas ecekecek, melainkan salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia. Sewaktu masih menjadi mahasiswa, Eddywan muda selalu memanfaatkan setiap waktu luang yang dimilikinya untuk menjalankan bisnis batiknya. Tentu saja kegiatan bisnis itudilakoni Eddywan tanpa mengabaikan kewajibannya dalam menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Hal itu dibuktikan Eddywan dengan diraihnya dua gelar sekaligus, yaitu gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Undip dan gelar sebagai juragan batik yang sukses.

Batik Cirebon

batik-cirebon-tulisSejak kepindahannya ke Pekalongan, usaha batik Eddywan terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat konsumen yang datang dari sekitar kota Pekalongan sendiri maupun kalangan konsumen yang datang dari berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Selain memproduksi batik tulis, Eddywan juga memproduksi batik cap dan batik printing. Batik tulis yang diproduksi bervariasi mulai dari batik halus yang proses pembuatannya bisa memakan waktu sampai 3 bulan, sampai batik super halus (sarimbit) yang pembuatannya bisa memakan waktu sampai 1 tahun. Batik printing biasanya diproduksi dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan pembuatan pakaian seragam. Kain dasar yang dipergunakan untuk memproduksi kain batik pun bervariasi mulai dari kain katun, rayon, rami sampai kain sutera. Demikian juga jenis kain tenun yang dipakai sebagai kain dasar ada yang berupa kain tenun yang dihasilkan oleh alat tenun mesin (ATM) ada juga yang dihasilkan alat tenun bukan mesin (ATBM). Dia juga memiliki usaha konveksi yang memproduksi pakaian jadi (garmen) yang terbuat dari bahan berupa kain batik. Berbagai kain batik dan pakaian jadi produksi Eddywan dijual dengan harga yang sangat bervariasi mulai dari Rp 25.000 per potong sampai Rp 5 juta per potong. Kini usaha batik Larissa dan usaha konveksi milik Eddywan mempekerjakan sekitar 60 orang karyawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *