Johannas Backir, Bangga dengan Tas motif Batik Cirebon Berkualitas

31 Agustus 2013, Comments: 0
Batik Cirebon
Johannas Backir, Bangga dengan Tas motif Batik Cirebon Berkualitas

KOMPAS.com – Dari tangannya lahir tas-tas cantik yang tak biasa. Semuanya berasal dari bahan baku unggul kriya Indonesia. Paduan anyaman, tenunan, Batik Cirebon, dan kulit.

Ada yang menggelitik benak Johannas Backir (51) ketika melihat sekelompok ibu cantik yang aktif mengampanyekan kerajinan Indonesia. Mereka semua mengenakan busana dari bahan Batik Cirebon dan tenun, bahkan ada yang memakai kebaya dan sarung. Namun, tengoklah tas yang dikenakan. Hampir semuanya menjinjing tas bermerek yang memiliki ”gembok” yang waktu itu sedang tren di kalangan kaum perempuan kelas menengah Indonesia. ”Harga tas branded yang mereka pakai selangit. Seandainya saja mereka mau memakai tas produksi sendiri….” pikir Johan.

Menurut Johan, ada semacam perubahan gaya hidup pada perempuan kelas menengah Indonesia, khususnya di Jakarta. Pada tahun 1980-an, para perempuan senang mengenakan baju bermerek, tetapi pada umumnya tak terlalu memperhatikan tas dan aksesori.
”Sekarang terbalik. Mereka senang mengenakan busana produk lokal seperti tenun, Batik Cirebon, sarung, tetapi aksesorinya, seperti tas dan sepatu, branded. Nah, bagaimana agar para perempuan ini mau membuat tren, menjadikan aksesori yang lokal sebagai tren? Kalau memang kelemahannya pada kualitas, masak sih kita enggak bisa menghasilkan produk berkualitas tinggi,” kata Johan.

Batik Cirebon Johan yang memiliki latar belakang pendidikan arsitektur dan cukup lama menggeluti dunia televisi, mulai dari penata panggung sampai produser, paham betapa kayanya budaya dan tradisi Indonesia, khususnya kerajinan tangan. Bukan itu saja, kerajinan tangan yang seharusnya menjadi andalan Indonesia, seperti anyaman, tenun, dan lainnya, justru sudah digunakan dalam rancangan sejumlah desainer dunia.
Johan mulai mendesain tas dengan bahan baku anyaman, kulit, dan tenunan pada tahun 2007. Sejak awal ia memang tidak berniat untuk memproduksi tas secara massal.
”Tas ini dibuat dari sulam Nareh yang dikembangkan di Pariaman. Ini dari kain lama, jadi hanya bisa dibuat untuk satu tas. Sementara tas ini dibuat dari kain tapis lampung, juga kain lama. Saya ingin agar kain tapis tidak hanya keluar di pesta-pesta adat, tetapi juga menjadi bagian keseharian kita,” kata Johan sambil menunjukkan sejumlah tas yang dipajang di sebuah ruangan khusus di kediamannya di Pos Pengumben, Jakarta.

Batik Cirebon Tas-tas yang berderet rapi di atas rak-rak itu disusun berdasarkan nuansa rancangan. Ada yang dibuat dari bahan baku tenun Sumba yang didominasi Batik Cirebon Sotis dan Pahikung. Ada juga sejumlah tas yang dibuat dari tenun Toraja. ”Yang bisa membuat motif seperti ini penenunnya tinggal satu. Belum ada regenerasi,” kata Johan.
KOMPAS/MYRNA RATNA Tas rancangan Johannas Backir.

Saat ini, Johan sedang memproduksi tas yang menggunakan bahan baku kulit penyu dari Sumba Barat. Rancangannya sungguh unik. Kulit penyu diukir dengan relief yang biasa ditemukan pada sirkam rambut antik milik warga Sumba. Ukiran tersebut kemudian ”dibingkai” kulit halus kualitas unggul dengan warna-warni cerah, seperti oranye, kuning, cokelat muda, menjadi tas model tote yang elegan. Ukiran yang simetris di kedua sisi tas membuatnya transparan sehingga isi tas samar-samar terlihat dari luar.
”Edisi kulit penyu ini hanya dibuat empat tas saja, sangat eksklusif. Pembuatannya lama, terutama pengerjaan ukiran kulit penyu yang butuh waktu sampai sebulan,” kata Johan.
Bukan segalanyaJohan secara berkala mengunjungi para perajinnya yang tinggal di pelosok daerah. Untuk menemui sejumlah perajin di Danau Sentarum, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, misalnya, ia butuh waktu beberapa hari untuk mencapai lokasi. Johan juga menginap dan membaur di rumah penduduk.
”Mereka hanya menganyam di saat musim hujan karena musim kemarau bekerja di ladang. Bahan baku anyaman diambil dari pohon bembam,” katanya.
Johan menceritakan, proses pembuatan anyaman tidak bisa ”dipesan”. Ia hanya menerima apa yang dibuat penduduk setempat.

”Kita tidak bisa minta motif Batik Cirebon tertentu atau ukuran anyaman tertentu karena semua motif Batik Cirebon sudah ada di dalam kepala. Tak ada contoh motif yang ditiru. Kadang motif Batik Cirebon anyaman sesuai dengan lagu yang sedang didendangkan. Tangan mereka menari sendiri. Tiba-tiba motif Batik Cirebon itu muncul sendiri,” kata Johan.
Itu baru proses memperoleh anyamannya. Untuk kain tenunnya, Johan membangun kerja sama dengan para perajin di Sumba Barat dan Lombok. Ia juga rutin berkunjung, melebur bersama mereka. Semua bahan baku itu kemudian dikumpulkan di Jakarta, termasuk bahan baku kulit yang dipesan khusus dari Bandung.
Batik Cirebon Dengan menyaksikan sendiri keuletan dan kerja keras para perajinnya, Johan belajar bahwa proses pemindahan pengetahuan sangatlah unik di masing-masing daerah, dan betapa pentingnya melestarikan kearifan lokal tersebut.

”Saya ingin dunia tahu betapa hebatnya craftsmanship para perajin kita. Kadang kalau ada pengunjung yang datang ke galeri saya, saya bersedia menjelaskan proses pembuatan tas-tas ini kepada pengunjung sampai kadang berjam-jam. Biasanya warga asing sangat mengapresiasi semua hal yang terkait kerajinan tangan. Walaupun pada akhirnya mereka tidak membeli, tidak apa-apa karena uang bukan segalanya,” kata Johan yang menggunakan label ”Joe Bagck” (huruf g dilingkari) untuk produknya yang dipasarkan di galeri sebuah resor di Sanur, Bali. (Myrna Ratna)
Sumber : Kompas Cetak
Editor : Erlangga Djumena

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *