Ninik Masina, Generasi Kelima Penjaga Filosofi Batik Trusmi Batik Indonesia

7 Agustus 2013, Comments: 0

batik -cirebon -batik-indonesia-mengenal-batik-dari-dedaunanBatik Indonesia-Ninik Masina, Generasi Kelima Penjaga Filosofi Batik Trusmi Batik Indonesia.Karya seni tidak bisa diukur dengan lembaran rupiah. Seorang seniman tak akan berlaku seperti pedagang. Prinsip itu terus bergelora di hati Ninik Masruni Masina, generasi kelima batik Trusmi, Cirebon, Jawa Barat, yang juga pemilik batik bermerek “Ninik Ichsan”.

Batik Indonesia Sebuah rumah luas di Trusmi Kulon, Plered, Cirebon, Jawa Barat, menjadi saksi bisu idealisme nenek usia 67 tahun tersebut. Didiami sejak generasi keempat keluarga pembatik ini, rumah dengan arsitektur yang terasa “jadul” tersebut merupakan tempat tinggal, galeri, sekaligus menjadi tempat untuk proses pembuatan batik.

Penampilan rumah tersebut berbeda dengan deretan galeri batik Cirebon, di kawasan Trusmi, yang hanya menjual batik, tetapi tidak membuat batik itu sendiri. Rata-rata galeri tersebut penuh warna dan terkesan modern Batik Indonesia.

“Ini rumah, bukan showroom,” ujar Ninik lugas, saat berbincang dengan Kompas.com, di satu petang di akhir Juli 2013. Saat berbicara, tutur katanya tertata dan halus, namun tegas, tak bisa diganggu gugat. “Saya juga bukan pedagang, saya perajin batik. Kalau mau ke pedagang, ke sana saja,” lanjutnya sambil menunjuk deretan galeri batik di sekitar rumahnya.

Ninik memang tak menyebut usahanya lebih tinggi dari pedagang batik Cirebon lain. Ia hanya bersikeras menyatakan bahwa dia adalah perajin batik, seniman batik, dan penjaga batik halus.
Ketegasan mengklasifikasikan dirinya sendiri itu jugalah yang membawa Ninik terbang ke banyak tempat. Karyanya sudah pernah dipamerkan di Jakarta, Bandung, hingga Hongkong.

Sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono, pernah memakai batik karyanya. Tak terhitung pesohor yang juga membeli batik yang dibuat di rumah bergaya jadul miliknya.

Menjual kualitas

Batik Indonesia Sebagai generasi kelima perajin batik trusmi, perempuan dengan empat anak dan tujuh cucu itu mengaku memegang teguh prinsip pendahulu. Batik yang baik, ujar dia menjelaskan prinsip itu, adalah batik yang ditulis dengan tangan.

“Dulu,saya mendapat pesan dari kedua orangtua, kalau mau bertahan di dunia batik (maka) kerjakan batik halus,” lanjut Ninik, menirukan pesan orangtuanya yang meninggal di tahun 2000-an.

Berbekal pesan tersebut, 5 dari 8 bersaudara, termasuk Ninik, memutuskan menekuni batik trusmi, meneruskan jejak kedua orang tua mereka. Kalimat sakral dan rasa cinta mendalam pada hasil karya kampung halaman menjadi bekal mereka mengambil keputusan tersebut. Namun, hanya Ninik yang memilih menekuni batik halus Batik Indonesia.

Ketika ditanya soal harga karyanya, Ninik terlebih dahulu tersenyum sebelum menjawab. “Di sini kami jual kualitas, ada yang paling halus Rp 25 juta,” ujarnya. Demi memenuhi pangsa pasar saja, Ninik juga menjual batik cap dengan kisaran harga Rp 40.000 hingga ratusan ribu rupiah.

Khusus batik halus, Ninik memberikan jaminan penukaran bila 10 atau 20 tahun mendatang batik tersebut luntur. Jika ada batik halus buatannya luntur, pembeli akan mendapat penukaran batik halus yang setara harganya dengan batik yang luntur itu. Prinsip tersebut dia pegang teguh sebagai tradisi yang dia jaga sampai usianya yang merangkak senja.

Jatuh bangun

Diakui Ninik, usaha yang dia jalankan tidak selalu berjalan mulus. Pukulan paling telak adalah saat Indonesia dihantam krisis moneter pada 1997-1998. Bunga pinjaman bank pada saat itu, sebut dia, membengkak sampai 62 persen. Rumah serbaguna-nya nyaris disita. “Istilahnya benar-benar jatuh ke dasar” ujar dia.

Batik Indonesia Beruntung, datang bantuan dari suami dan keempat anaknya. Bantuan tersebut menyelamatkan Ninik dari belitan utang hingga usahanya stabil sampai sekarang.

Pengalaman pahit itu yang membuat Ninik berpikir panjang untuk meminjam uang ke bank sekalipun akan dipakai membangun butik atau galeri batik trusmi. Keinginan Ninik sekarang rumahnya juga adalah rumah bagi para pecinta batik.

Namun, tantangan tak hanya datang dari utang yang tiba-tiba membengkak. Prinsip “menjual kualitas, bukan kuantitas” yang dia pegang teguh pada satu masa juga memunculkan tantangan tak terduga.

Entah siapa yang menebar dan apa maksud yang dituju, beredar kabar sejarah batik trusmi sudah putus. “Ada pelanggan lama saya bilang tempat saya (dikabarkan) tutup dan saya sudah nggak ada. Saya nggak apa-apa. Begitu ketemu, dia tahu yang sebenarnya, dia langsung meluk saya, ya begitulah,” kenangnya.

Kegelisahan generasi kelima

Di tengah upaya mempertahankan kelestarian batik tulis, Ninik mengaku punya kegelisahan, tentang siapa penerus batik trusmi. “Nah itu dia, kalau dagang semua bisa, tapi untuk meneruskan filosofi, rasanya belum ada. Makanya, saya sedih, tidak tahu harus gimana,” ujar dia Batik Indonesia.

Pada satu sisi, tutur Ninik, banyak pelanggan yang meminta jangan sampai batik trusmi Ninik punah. Tetapi, tak ada satu pun anaknya yang terlihat bakal menjadi penerus.

Ninik berpendapat pengalaman dan ketulusan keempat anaknya belum cukup untuk menjadi generasi keenam batik trusmi. Menyusuri hari-hari usia senja, Ninik berharap akan muncul penerus batik trusmi, bukan batik yang sekadar untuk dijual sebagai dagangan, melainkan batik seni penuh filosofi.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *