Batik Cirebon-Batik Zeolit, Kolaborasi Jurusan Desain & Sains

2 September 2013, Comments: 0

batik-cirebon-batik-indonesia-trusmi-cirebon-mister-batik-indonesiaBatik Cirebon-Batik Zeolit, Kolaborasi Jurusan Desain & Sains.Batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa dengan ciri khas tiap daerah di Nusantara yang tergambar dalam tiap polanya. Kini, pengembangan batik bahkan sudah memasuki ke ranah kolaborasi antara sains dan teknologi Batik Cirebon.

Seperti yang dilakukan Tim Peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) yang beranggotakan Alvanov Zpalanzani, Yan Yan Sunarya, Rino R Mukti, Veinardi Suendo, Dian Widiawati, Chandra Tresnadi, dan Fajar Ciptandi. Mereka berhasil menciptakan batik dengan terapan struktur molekuler Zeolit MFI dan FAU.
Riset dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) ITB itu sekaligus merupakan bentuk eksperimen dari wacana yang dikembangkan antara peneliti batik dan peneliti zeolit. Kedua pihak tersebut berencana mengembangkan batik dengan basis sitem dan modul kristalisasi mineral zeoli sehingga diharapkan penelitian itu mampu memperkaya produk ekonomi kreatif Indonesia.

Batik Cirebon Batik Zeolit ini merupakan kajian aplikasi teknologi pembuatan komposisi desain batik yang memanfaatkan diversifikasi ragam varian visualisasi molekuler. Apalagi pasca dinobatkannya batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia oleh UNESCO pada 2009. Hal itu sekaligus menjadi tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat melestarikan dan mengembangkan batik Indonesia.
Eksplorasi batik menggunakan teknik zeolit sebenarnya bukan hal yang asing. Sebab, pernah terdapat eksplorasi permainan elemen visual dari ikon budaya populer, seperti Batik Cimahi dan Batik Betawi. Terakhir, adalah Batik Fractal yang memanfaatkan sains untuk mengembangkan sistem penduplikasian motif dengan teknologi digital dan perhitungan matematis yang rumit Batik Cirebon.

Batik Cirebon “Kemiripan proses produksi zeolit dengan batik mendasari pemikiran kolaborasi pembatikan kontemporer yang tidak hanya berbasis perhitungan seperti halnya Batik Fractal. Namun juga memiliki modul dasar yang sifatnya mirip dengan proses penggunaan batik cap dan bahkan dapat bersifat sederhana melalui proyeksi dua dimensi dari sebagian sumbu kristal zeolit tersebut,” ungkap Alvanov Zpalanzani, seperti dinukil dari laman ITB, Senin (17/6/2013) Batik Cirebon.

Batik Cirebon Zeolit, lanjutnya, merupakan senyawa kimiawi mineral berbentuk kristal yang tersebar di alam . Sebenarnya, zeolit dapat terbentuk di awal maupun diperoleh dari hasil rekayasa di laboratorium. Menariknya, terdapat lebih dari 200 variasi kristal zeolit.
“Kelebihan batik berbahan zeolit ini adalah dari aspek desain, yaitu sebagai penanda identitas banyak hal. Misalnya, Indonesia hanya memiliki beberapa jenis zeolit tertentu sehingga dapat menggambarkan keunikan zeolit Indonesia melalui batik. Selain itu, Batik Zeolit menerapkan metode cap dan tulis, berbeda dengan baju industri,” jelasnya.
Dosen program studi Desain Komunikasi dan Visual itu menyebut, untuk proses pembuatan, satu potong baju jadi dapat dihasilkan dalam waktu satu sampai satu setengah bulan. Proses pembuatan batik zeolit ini terdiri dari tahap persiapan, pembatikan/’nyungging’, pewarnaan, dan yang terakhir finishing atau ‘babaran’ Batik Cirebon.

Batik Cirebon Terakhir, Alvanov berharap agar lebih banyak bidang-bidang keilmuan lain yang dapat bekerjasama untuk menciptakan terobosan-terobosan terbaru lainnya. Sebab, inovasi batik zeolit melupakan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu yang ada.
“Ini merupakan riset kolaborasi FMIPA dan FSRD, terdapat banyak motif dan kemungkinan output lain jika lebih banyak lagi bidang keilmuan yang turut berpatisipasi jika kita semangat untuk mengeksplorasi. Eksplorasi sendiri harus bermain dengan konteks budaya, sosial, geografi, teknologi, dan manusia,” ujar Alvanov Batik Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *