Batik Cirebon - Dari Batik Tulis, Narwati Berdayakan 35 TKI Purna

22 September 2013, Comments: 0

Zivanna-Letisha-Siregar-suka-batik-cirebonBatik Cirebon – Dari Batik Tulis, Narwati Berdayakan 35 TKI Purna.Ponorogo, BNP2TKI, Senin (1/7) – Sukses Narwati (44 tahun) memberdayakan para TKI Purna patut dicontoh para TKI di tanah air. Melalui wirausaha batik tulis ikat “Mahkota Ponorogo” yang ditekuni sekembali menjadi TKI di Taiwan, kini dia mengajak serta 35 TKI Purna sebagai mitra wirausahanya Batik Cirebon.

Batik Cirebon Dari wirausaha batik tulis ikat “Mahkota Ponorogo” ini pula, Narwati pada tahun 2010 mendirikan Koperasi Mandiri Bangsa. Ia duduk sebagai ketua, sedang anggota pemulanya adalah ke-35 TKI Purna yang merupakan mitra wirausahanya.

Untuk memulai usaha batik tulis, ibu dua anak ini ketika ditemui di Ponorogo, Jawa Timur (Minggu, 30 Juni 2013) mengaku, tidak minder untuk menjadi TKI. “Saya butuh modal untuk memulai wirausaha. Namun untuk pinjam kredit ke bank takut tidak bisa tepat waktu mengembalikannya, karena bunga bank pun akan terus bertambah menjadi bunga berbunga,” tutur Narwati Batik Cirebon.

Batik Cirebon Kondisi kebutuhan modal untuk wirausaha itulah yang mendorong Narwati – meskipun menyandang ijazah Diploma 3 di STKIP Ponorogo (1992) – tidak minder menjadi TKI ke Taiwan. Dipilihnya Taiwan sebagai negara tujuan, karena gaji TKI Taiwan tergolong tinggi.

Bagi ibu dari Alfas Maula A Fiki (18 tahun) dan Mufti Ludaya (15 tahun) buah perkawiannya dengan Ahmadi ini, tekadnya menjadi TKI cukup sekali saja (1992 – 1995). Setelah itu menekuni wirausaha di daerahnya, Desa Lembah RT 2/RW 1 Kecamatan Babatan, Kabupaten Ponorogo. “Usaha batik tulis ikat yang saya beri nama ‘Mahkota Ponorogo’ ini dengan modal awal Rp 10 juta,” kata Narwati.

Didalam perjalanannya, Narwati mengembangkan usaha lain berupa pembuatan tas anyaman dari bahan platik dan kue kering. Narwati mengatakan, usaha pembuatan batik tulis ikat “Mahkota Ponorogo,” tas anyaman plastik, dan kue kering merupakan satu paket. Karena seringkali pembeli ketika membeli kain batik tulis kemudian beserta kue kering dimasukkan dalam tas plastik anyaman tersebut.

Batik Cirebon Narwati menuturkan, pembeli batik tulis ikat “Mahkota Ponorogo” ini sebagian besar kalangan pejabat di Jawa Timur dan daerah-daerah lainnya. Soalnya, ia seringkali diajak pameran bursa kerja luar negeri – yang diselenggarakan Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Provinsi Jawa Tiimur maupun Unit Pelaksana Teknis Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (UPT P3TKI) Surabaya.

Batik Cirebon “Dari pameran bursa kerja itulah, batik tulis ikat ‘Mahkota Ponorogo’ saya kemudian dikenal di kalangan pejabat, terutama di Disnakertransduk Provinsi maupun daerah kabupaten/kota. Bahkan dipakai seragam khusus karyawan PNS di UPT P3TKI Surabaya pada hari-hari tertentu,” papar Narwati Batik Cirebon.

Mengenai harga, Narwati mematok harga setiap potong untuk ukuran kemeja panjang Rp 200ribu sampai Rp 300ribu. Tergantung bahan yang dasar yang dipakai. Namun bila pembelian satu paket dengan kue kering dan tas plastik anyaman, harganya berkisar antara Rp 350ribu sampai Rp 400ribu untuk kain batik ukuran lengan panjang. Sedangkan untuk kemeja ukuran lengan perpotong seharga Rp 150ribu. Bila satu paket dengan kue kering dan tas plastik anyaman harganya antara Rp 250ribu sampai Rp 300ribu.

Batik Cirebon Narwati menuturkan, keuntungan para TKI dari usaha batik tulis ikat “Mahkota Ponorogo” perpotong antara 80 – 100 persen. Tetapi keuntungan itu tidak bisa diambil semuanya. Melainkan dipotong untuk tabungan wajib koperasi Rp 2.000 dan tabungan sukarela. “Tabungan sukarela dibagikan kembali kepada setiap menjelang hari raya Idul Fitri. Sedangkan tabungan wajib tidak dapat diambil, kecuali tidak menjadi anggota koperasi lagi,” kata Narwati.

Kini dalam dua tahun berjalan aset Koperasi Mandiri Bangsa mencapai Rp 20 juta. Narwati optimistis bahwa suatu saat usaha batik tulis ikat “Mahkota Ponorogo” dan Koperasi Mandiri Bangsa akan berkembang. Karena koperasi ini terbuka menerima anggota lain dari kalangan sesama TKI Purna asal Ponorogo.

Batik Cirebon Terkait nama “Mahkota Ponorogo” yang dipakainya dalam produk batik tulis ikat, Narwati menuturkan, bahwa nama Ponorogo sudah dikenal masyarakat dunia dengan kesenian reognya. “Sedangkan saya bersama teman-teman TKI Purna di Ponorogo juga ingin mengenalkan produksi lain berupa bati tulis ikat,” tutur Narwati memungkasi perbincangannya Batik Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *