Batik Cirebon, Pakaian Kehormatan Mandela

10 September 2013, Comments: 0

BATIK mulai dikenal di Afrika Selatan ketika Nelson Mandela — presiden kulit hitam pertama negara itu — datang ke Indonesia untuk menghadiri Konferensi Kerja sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Bogor tahun 1994. Saat itu, Mandela — seperti semua kepala negara lain yang ikut APEC — didaulat mengenakan batik oleh Presiden Indonesia Soeharto.

Batik Cirebon

Batik Cirebon, Pakaian Kehormatan Mandela

Ketika kembali ke negaranya, Mandela bukannya melepas baju Batik Cirebon itu, dia terus memakainya. Hingga saat ini, Batik Cirebon adalah baju favorit peraih hadiah Nobel Perdamaian 1993 tersebut.
Pada tahun 1997, ketika untuk kali kedua Mandela berkunjung ke Indonesia guna bertemu Soeharto, dia juga mengenakan Batik Cirebon.

Saat itu, dia memakai Batik Cirebon lengan panjang dengan motif burung merak yang dikancingkan rapat sampai ke leher. Gaya kancing rapat sampai leher itu menjadi gaya khasnya sampai sekarang.

Soeharto ketika itu tentu saja kikuk karena dia mengenakan jas resmi, sementara sang tamu justru pakai Batik Cirebon. Ketika saya tiba di Bandara Internasional Oliver Reginald Tambo, Johannesburg, Selasa (8/6) pekan lalu, poster besar Mandela tengah memegang trofi Piala Dunia dipajang di pintu kedatangan.

Dia mengenakan baju Batik Cirebon khas Indonesia!
Batik Cirebon memang sudah identik dengan Mandela. Setiap kali tampil di muka umum untuk acara-acara resmi, baik kenegaraan maupun sosial, dia selalu memilih batik sebagai aparelnya. Pejabat Indonesia malahan lebih suka pakai jas dalam acara resmi.

Tak hanya di bandara. Poster-poster besar di sudut-sudut kota Johannesburg dan Pretoria, yang menampilkan Mandela dalam pose berlainan, juga berbaju Batik Cirebon. Pejuang kelahiran 18 Juli 1918 di Mvezo, Mthatha, Afsel, tampaknya sangat cocok dengan kemeja khas Indonesia tersebut.

Warga Afrika Selatan sampai menjuluki pakaian unik itu dengan sebutan ’’Madiba shirt’’ atau kemeja Madiba. Madiba adalah nama panggilan akrab Nelson Mandela.
Warga Segan
Entah benar entah tidak, konon, tiap tiga bulan Mandela menerima kiriman batik dari perancang kondang Indonesia, Iwan Tirta. Itu sebabnya dia bisa tampil dengan batik yang berbeda-beda setiap waktu.

Meski menjadi favorit Madiba, Batik Cirebon tidak terlalu mudah dijumpai di toko-toko pakaian di Afrika Selatan. Kemeja ini hanya dijual di pasar swalayan dan toko-toko mewah, seperti Morningside di Sandton.

Salah satu toko yang menjualnya adalah Gillani, milik Irfaan Gillan, di Morningside. Harga sepotong Batik Cirebon sutera lengan panjang adalah 700 rand (setara Rp 840 ribu).

’’Saya mendapatkannya dari ITPC. Saya tidak tahu produsen dan asal kotanya, yang jelas dari Indonesia,’’ kata Irfaan, pria keturunan Turki yang menikahi Mariam, wanita keturunan Male — sebutan untuk etnis Melayu di Afsel. Dia mengaku mendapat pasokan batik dari ITPC.

’’Warga Afsel, terutama yang kulit hitam dan campuran, sebenarnya menyukai Batik Cirebon Indonesia. Tapi sulit untuk menemukannya. Memang ada Batik Cirebon kelas dua, tapi harganya juga sudah mahal, sekitar 150 rand (Rp 180 ribu),’’ jelas Ali Hassan, deputi direktur Indonesian Trade Promotion Centre (ITPC) di Johannesburg, kemarin.

Rata-rata baju yang dipakai warga umum di Afsel seharga 50-100 rand. Satu rand setara dengan Rp 1.200.

Tapi, keterbatasan pemakaian batik bukan hanya disebabkan oleh harga yang lumayan tinggi. Faktor ’’rasa hormat’’ kepada Mandela juga berpengaruh. Karena batik sudah identik dengan Mandela — sampai dijuluki Madiba Shirt tadi — warga segan memakainya karena tidak ingin mengerdilkan penampilan sang pahlawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *