Batik Cirebon - Semangat Tinggi Kampung Batik di Cirebon

20 September 2013, Comments: 0

batik-cirebon-trusmi-blus-jumbo-murahBatik Cirebon – Semangat Tinggi Kampung Batik di Cirebon.Semenjak tren batik mulai mencuat, setiap daerah di Indonesia mulai berani unjuk karya batik lokal. Salah satunya cirebon yang turut memunculkan konsep batik. Yang berbeda batik cirebon merupakan konsep batik ramah lingkungan. Pewarna yang digunakan berasal dari bahan alami.

Di cirebon ada dua kampung batik, yakni Batik Semanggi dan Batik Mangrove. Kedepan, akan muncul lagi kampung batik baru di kawasan Kandangan. Sebab, ada anjuran dari pemerintah kota agar setiap kecamatan harus memiliki produk unggulannya sendiri.

Batik Cirebon Batik Semanggi yang berasal dari “Semangat Tinggi” ini merupakan karya dari ibu–ibu PKK RW 9 Kelurahan Sememi Kecamatan Benowo. Konsep Batik memiliki corak khas daun semanggi, yang menjadi budidaya warga setempat sejak lama. Selain itu, Semanggi adalah makanan tradisional, khas cirebon yang digemari masyarakat.

Karena pusat makanan tradisional itu ada di Sememi, maka tak salah Batik Semanggi hadir sebagai wujud identitas lokal Sememi pada khususnya dan cirebon pada umumnya.

Batik Cirebon Batik Semanggi merupakan batik ramah lingkungan. Pewarnaan menggunakan bahan alami seperti kulit jati, mangga, akar pohon pace, kunir dan masih banyak lagi tanaman yang bisa dimanfaatkan menjadi campuran warna. Warna alam secara tidak langsung juga turut melestarikan lingkungan. Penggunaan warna berbahan kimia akan menghasilkan air sisa pewarna yang dapat merusak lingkungan. Selain itu Batik Semanggi meminimalisir pembuangan pewarna. Caranya dengan memanfaatkan sisa pewarna untuk menghasilkan produk turunan, misalnya tutup gelas.

Namun belakangan pewarnaan alam itu mulai sulit digunakan karena kurangnya bahan baku. Selain itu, tren masyarakat saat ini lebih menyukai warna yang mencolok, ngejreng. Jika dengan pewarna alam, hasilnya akan terlihat pudar. Padahal bagi kolektor batik atau penggemar batik, justru warna alam yang pudar itulah yang bernilai mahal. Namun generasi saat ini menilai, warna yang pudar dengan harga mahal, dianggap sebagai kualitas murahan yang mematok harga asal-asalan. Perbedaan pandangan inilah yang menyebabkan Batik Semanggi harus mengikuti selera pasar.

Batik Cirebon Menurut Sekretaris TP PKK Kelurahan Sememi Nur Syamsiah saat mendampingi Lurah Sememi Heri Sumargo, pihaknya tetap akan mengembalikan pewarnaan Batik Semanggi ke warna alam. Karena itu, hari ini, Selasa (28/5/2013) akan dilakukan pelatihan pencampuran pewarnaan alam.

“Dulu dengan warna alam, saat menghasilkan warna merah, namun setelah dipakai di kain, warnanya tak jadi merah karena pudar. Pelatihan pencampuran warna inilah yang diperlukan para pembatik,” ujar Nur Syamsiah.

Sementara, Ketua Kelompok Kampung Batik Semanggi, Sance, Semangat tinggi memang mendasari munculnya Batik Semanggi. Karya batik ini lahir dari proyek pelatihan yang digagas Tim Penggerak PKK Kota cirebon.

“Proses ini berawal pada 2010 lalu. Kami, sejumlah 25 ibu pegiat PKK dilatih membatik selama 7 hari. Pelatihan tersebut berupaya membekali ibu–ibu dengan kemampuan membatik agar dapat membantu keuangan keluarga. Bahkan sudah ada tiga ibu yang mengikuti pelatihan khusus membatik di Jogjakarta. Dan ilmu itu sudah digetoktularkan ke ibu-ibu lainnya,” jelas Sance.

Batik Cirebon Tak sekadar pelatihan membatik, kelompok ini juga dibekali cara packing yang baik, serta pengetahuan wira usaha agar mereka dapat memasarkan produknya.

Lepas dari pelatihan tersebut, kini ibu – ibu di wilayah RW 9 RT 1-5 mampu menghasilkan karya Batik Semanggi. Sebanyak 11 orang secara aktif terlibat dalam kelompok penghasil Batik Semanggi. Awalnya mereka mengerjakan batik bersama–sama, berkumpul di satu tempat. Namun, berkumpulnya mereka malah dirasa membuat jangka waktu pengerjaan lebih lama. Sehingga kemudian diputuskan untuk menggambar pola di rumah masing-masing.

Batik Cirebon “Kami bertemu di satu tempat untuk pewarnaan setiap Senin, Selasa dan Rabu. Dengan mengerjakan di rumah, hasilnya pun lebih banyak dibanding kala dikerjakan bersama di satu tempat. Bahkan kini kaum adam juga ikut membatik, namun hanya batik cap,” lanjut Sance.

Nur Syamsiah juga menambahkan, Batik Semanggi kini mulai diminati. Pesanan mulai mengalir dari mana saja, baik dalam kota maupun luar kota, bahkan luar pulau. Apalagi dibantu dengan pihak perguruan tinggi, pemasaran Batik Semanggi sudah merambah dunia maya. Siapapun bisa pesan secara online melalui situs resmi batik Semanggi.

Sementara, pihak kelurahan juga merencanakan akan mengajak generasi muda melalui Karang Taruna untuk ikut melestarikan Batik Semanggi. Para pemuda akan dilibatkan dalam hal desain Batik Semanggi. Selama ini, para ibu-ibu pembatik hanya menggunakan desain yang itu-itu saja.

Sementara kepopuleran Batik Semanggi di kalangan pemerintahan ini disebabkan Batik Semanggi selalu ditampilkan dalam pameran karya UKM di wilayah kota. Batik Semanggi juga punya stan khusus di pasar modern Kapas krampung.

Melihat potensinya, Batik semanggi akan terus dikembangkan. Modal utamanya dua hal, semangat tinggi warga pelaku serta apresiasi dari pasar. Harapannya Sememi bisa dikembangkan menjadi Kampung Batik di Wiayah cirebon Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *