Gejala Transformasi Batik Cirebon

18 September 2013, Comments: 0

Gejala Transformasi Batik Cirebon.Penulis terhenyak ketika salah pakar dan produsen Batik Cirebon ternama di Pekalongan, H Dudung Aliesyahbana, dalam kuliah umumnya di Prodi D-3 Teknologi Batik Cirebon Universitas Pekalongan (Unikal) menyatakan bahwa perkembangan Batik Cirebon sekarang ini lebih dominan pada batik carangan dan sempalan.

Batik Cirebon

Gejala Transformasi Batik Cirebon

DUNIA industri fashion sudah sedemikian rupa menggiring Batik Cirebon pada kondisi seperti sekarang ini. Bahkan di Pekalongan, muncul semacam kebanggaan bahwa jika bisa memproduksi batik dengan harga semurah mungkin maka itu ’’prestasi’’.

Jika sudah berbicara harga murah maka akhirnya mutulah yang dipertanyakan. Mutu, terutama akan terkait dengan kain dan obat Batik Cirebon yang digunakan, serta desain yang ditampilkan. Orang Jawa bilang ana rega ana rupa, dan hal ini memiliki kedalaman bahwa produk yang dijual dengan harga murah, apakah dijamin memiliki mutu bagus?

Jika batik menjadi seperti itu maka yang awalnya karya seni adiluhung bertransformasi menuju tahapan yang lebih rendah. Meminjam istilah Van Peursen bahwa transformasi budaya tidak berarti menuju tahapan yang lebih tinggi tetapi menuju hal yang sifatnya berbeda. Apakah proses transformasi hanya menuju pada sesuatu yang lebih rendah?

Faktanya sekarang perkembangan desain batik begitu variatif. Meminjam istilah dalam pewayangan bahwa lakon bisa dikategorikan dalam cerita pakem, carangan, dan sempalan. Cerita pakem didefinisikan sebagai lakon yang masih mengikuti kisah klasik seperti Bharatayuda dan Ramayana. Cerita carangan adalah lakon yang masih mengambil unsur-unsur dalam lakon pakem tetapi sudah dengan sentuhan bentuk baru dan penyajian baru.

Format Baru

Adapun cerita sempalan, sama sekali lepas dari cerita pakem. Demikian yang terjadi dalam  perkembangan Batik Cirebon sekarang ini. Tidak semua perkembangan yang terjadi pada batik menuju pada sesuatu yang lebih buruk. Dewasa ini, perkembangan Batik Cirebon begitu variatif. Tampilan batik tidak lagi terpaku pada pola klasik sebagaimana awal kehadirannya dalam khazanah budaya Indonesia. Bukanlah hal ini juga merupakan ’’penyelewengan’’ akibat proses transformasi, tetapi dalam konteks positif.

Berdasar analogi dunia pewayangan tadi maka definisi batik pakem adalah Batik Cirebon yang masih melestarikan penggunaan motif dan warna Batik Cirebon sebagaimana asalnya dulu (batik klasik). Batik carangan adalah batik yang sudah mengalami modifikasi tetapi masih menampilkan unsur-unsur klasik.

Adapun tampilan Batik Cirebon sempalan merupakan modifikasi bebas hasil kreativitas desainer/ pembatik.Sangat bisa terjadi bahwa motif dan warna yang digunakan sama sekali terlepas dari pakemnya. Dalam bahasa lain, batik sempalan bisa saja diartikan bahwa yang tersisa hanyalah prosesnya. Apapun tampilannya jika masih memenuhi kriteria definisi yang diberikan oleh Konvensi Batik Cirebon Internasional di Yogyakarta pada 1997, tetap bisa disebut batik.

Definisi yang dimaksudkan adalah proses penulisan gambar atau ragam hias pada media apapun dengan menggunakan lilin batik (wax) sebagai alat perintang warna. Bilamana prosesnya tanpa menggunakan lilin batik maka tidak bisa dinamakan batik tetapi harus disebut tekstil bermotif batik.

Apakah perkembangan batik yang sudah sedemikian rupa merupakan sesuatu yang salah? Tidak ada yang salah mengingat perubahan itu karena tuntutan zaman. Baik batik carangan maupun sempalan adalah dalam rangka usaha si pembuatnya untuk mencari format baru, sesuai dengan perkembangan zaman. (10)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *