Gejolak Ekonomi, Potensi Memunculkan Kendala Produksi Batik Cirebon

9 September 2013, Comments: 0

KUDUS, suaramerdeka – Gejolak ekonomi yang terjadi di tengah – tengah masyarakat juga berdampak pada sektor usaha, salah satunya adalah produksi kerajinan Batik Cirebon tradisional Kudus. Hal itu menyebabkan kendala tersebut dalam proses produksi.

Batik Cirebon

Gejolak Ekonomi, Potensi Memunculkan Kendala Produksi Batik Cirebon

Pelopor Batik Cirebon Kudus, Yuli Astuti dalam sebuah workshop Batik Cirebon di sentra kerajinan Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kudus kemarin mememaparkan, sebenarnya gejolak ekonomi yang dimaskud adalah penyediaan bahan baku untuk memasak obat yang digunakan sebagai proses perwarnaan. “Yaitu kelangkaan elpiji yang sudah terjadi beberapa pekan terakhir ini,” katanya yang juga pengurus Asian Women bidang kerajinan Batik Cirebon itu.

Pihaknya sendiri mengakui hal itu, meski sepele namun jika dibiarkan lambat laun akan menjadi kendala serta menurunkan kualitas produksi. “Sebab sifat bahan untuk memasak tersebut setidaknya harus senantiasa tersedia sewaktu – waktu,” terangnya.

Ia menjelaskan sebenarnya awalnya menggunakan kayu bakar, namun hal itu tidak efisien dan kurang ekonomis. “Kemudian beralih ke minyak tanah. Namun lagi lagi pemerintah mencanangkan program konversi minyak tanah ke elpiji. Tetapi ironisnya ketersediaannya justru langka, dan lagi – lagi pelaku usaha Batik Cirebon dibuat kesulitan karenanya,” paparnya.

Ia menambahkan gejolak selanjutnya yang muncul adalah kenaikan harga BBM yang hingga kini masih hanya dibicarakan, namun hal itu sudah diantiasipasi. “Tentunya ikut menaikan harga Batik Cirebon, namun tidak dilakukan secara frontal melainkan bertahap agar konsumen tidak kecewa. Meski demikian hal itu tidak menghambat permintaan, justru meningkat dua kali lipat dan hal ini terbiasa ketika menjelang bulan Ramadhan,” ungkapnya.

Namun pihaknya khawatir jika kesulitan elpiji yang merupakan bagaian darai gejolak ekonomi ini masih saja dibiarkan, tentunya jadwal produksi menjadi terlambat. “Kami berharap pihak terkait bisa mengantisipasi hal ini agar tidak terus berlarut,” tandasnya.
Ia menjelaskan sebenarnya awalnya menggunakan kayu bakar, namun hal itu tidak efisien dan kurang ekonomis. “Kemudian beralih ke minyak tanah. Namun lagi lagi pemerintah mencanangkan program konversi minyak tanah ke elpiji. Tetapi ironisnya ketersediaannya justru langka, dan lagi – lagi pelaku usaha Batik Cirebon dibuat kesulitan karenanya,” paparnya.

Ia menambahkan gejolak selanjutnya yang muncul adalah kenaikan harga BBM yang hingga kini masih hanya dibicarakan, namun hal itu sudah diantiasipasi. “Tentunya ikut menaikan harga Batik Cirebon, namun tidak dilakukan secara frontal melainkan bertahap agar konsumen tidak kecewa. Meski demikian hal itu tidak menghambat permintaan, justru meningkat dua kali lipat dan hal ini terbiasa ketika menjelang bulan Ramadhan,” ungkapnya.
( Ruli Aditio / CN39 / SMNetwork )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *