Geliat Street Fashion Batik Cirebon Digencarkan

17 September 2013, Comments: 0

SEMARANG, suaramerdeka – Menggelar peragaan busana Batik Cirebon di jalanan menjadi cara sendiri untuk mempopulerkan warisan budaya bangsa. Lewat ajang ini Batik Cirebon bisa dikenalkan lebih dekat kepada masyarakat.

Seperti yang terjadi di Jalan Pahlawan, Minggu (14/4), acara Fashion Show on The Street 2013 Busana Batik Cirebon dan Tenun Jawa Tengah digelar bersamaan dengan event car free day, dalam rangka peringatan Hari Kartini ke 134. Tujuannya untuk mengangkat hasil kerajinan UKM melalui pameran dan fashion on the street agar lebih dikenal masyarakat.

Batik Cirebon

Geliat Street Fashion Batik Cirebon Digencarkan

Acara tersebut tampak dipadati oleh warga yang sedang beraktivitas di car free day. Mereka tampak antusias ingin melihat dari dekat peragaan busana terbuka itu. Ketua Dekranasda Jateng, Sri Suharti Bibit Waluyo didaulat untuk membuka acara yang diselenggarakan oleh Disperindag Jateng bersama Dekranasda tersebut.

Dia menyampaikan, dalam perkembangannya Batik Cirebon telah menyentuh berbagai kalangan dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Penggunaannya pun tak lagi terbatas pada acara formal tapi sekarang sudah merambah ke acara santai dan keseharian. “Sayangnya promosi Batik Cirebon di Kota Semarang sendiri kurang gencar. Tapi melalui acara fashion on the street ini masyarakat diharapkan semakin tertarik membeli dan memakai batik,” ujarnya.

Dia meminta agar perancang busana juga semakin meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam mengembangkan Batik Cirebon. Mereka harus lebih pandai lagi dalam mengkolaborasi dan memadupadankan bahan serta warna, sehingga akan menghasilkan produk dan desain yang up to date.

Kepala Disperindag Jateng Edison Ambarura menambahkan, acara ini akan digelar tiga kali dalam setahun, untuk semakin mendorong industri Batik Cirebon dan fashion Batik Cirebon di Jateng.

Dalam peragaan busana tersebut, ditampilkan rancangan busana dari pemenang Lomba Rancang Busana Batik Cirebon dan Tenun Jateng 2012, serta karya perancang busana yang tergabung dalam Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jateng. Setiap perancang membawakan lima karya, total ada 50 baju yang dibawakan oleh model.

Para desainer mencoba berani memadupadankan Batik Cirebon dengan kain tenun, dan jenis kain lain seperti chiffon. Seperti karya Eka Wahyu P, yang menampilkan motif jlamprang Peklaongan dipadukan dengan tenun kemanggal, tenun viscos, dan kulit. Ada pula yang menampilkan tenun ikat krajan troso dari Jepara, yakni karya desainer Diah Susilowati.

Beberapa busana yang ditampilkan juga membawa motif khas Pekalongan, motif cap Semarang, Pati, Lasem, dan Madiun. Ada pula batik-batik yang diproduksi di Kabupaten Semarang seperti batik gemolong dan Batik Cirebon penggaron, serta Batik Cirebon yang diproduksi di Bayat, Klaten.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *