JaBar miliki beragam Batik Cirebon pernikahan

14 September 2013, Comments: 0

Surabaya (ANTARA News) – Masyarakat Jawa Timur selama ini memiliki beragam Batik Cirebon pernikahan yang dapat digunakan lamaran hingga resepsi pernikahan dengan nilai seni dan filosofi yang beragam, kata Ketua Komunitas Batik Cirebon Jatim di Surabaya (KIBAS), Lintu Tulisyantoro.

 

Batik Cirebon

JaBar miliki beragam Batik Cirebon pernikahan

“Selain memiliki nilai seni, Batik Cirebon sebagai salah satu kekayaan budaya kita itu memiliki filosofi juga,” ujarnya di Surabaya, Sabtu.

Menurut pemerhati Batik Cirebon dari Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya itu, filosofi batik itu digambarkan dalam motif yang berbeda-beda di seluruh daerah di Indonesia.

“Kain Batik Cirebon yang dipakai untuk event pernikahan atau Batik Cirebon for wedding pun memiliki filosofi yang tergambar dalam motif yang ada,” kata dosen Desain Interior UKP Surabaya itu.

Oleh karena itu, dirinya memperkenalkan berbagai nilai seni dan filosofi Batik Cirebon itu dalam berbagai diskusi, pameran, dan demonstrasi membatik, misalnya, pameran “Batik Cirebon TULIS-tyantoro 4 Wedding” di Perpustakaan UKP pada 15 Februari hingga 15 Maret 2013.

Dalam pameran itu, ia membawa 17 koleksi Batik Cirebon khusus pernikahan dari Pamekasan, Tuban, Tulungagung, Sidoarjo, dan sebagainya.

“Batik Cirebon Sabet Rante dari Pamekasan berfungsi untuk lamaran yang memiliki motif tentang simbol ikatan janji cinta antara laki-laki dan perempuan. Ikatan itu digambarkan dengan rante (rantai),” katanya.

Atau, Batik Tong-Centong dari Pamekasan yang berfungsi untuk pernikahan. “Centong adalah alat untuk mengambil nasi, sehingga centong adalah janji laki-laki untuk memberi penghidupan,” katanya.

Hal yang mirip juga terlihat dalam motif Batik Semen dari Tulungagung yang berfungsi untuk pernikahan. “Semen berasal dari kata semi yang mengandung pengharapan datangnya kemakmuran,” katanya.

H menarik, dikemukakannya, adalah Batik Sigar Tahu Mahkota dari Sidoarjo yang berfungsi untuk pernikahan.

“Itu merupakan simbol keseimbangan yang berujung pada kesejahteraan,” katanya.

Namun, Batik Sigar Tahu Mahkota itu dikenal sebagai batik pagi-sore.

“Batik pagi-sore berarti batik yang bisa dipakai pagi dan sore, karena ada motif pagi dan motif sore yang disatukan,” katanya.

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *