Pasang Surut Kehidupan Batik Cirebon

17 September 2013, Comments: 0

DALAM perjalanannya, Batik Cirebon Pekalongan mengalami pasang surut. Menurut Ketua Paguyuban Pecinta Batik Cirebon Pekalongan, Fatiyah A Kadir, pada era 1970-an, Batik Cirebon hanya digunakan sebatas sarung atau kain yang dililitkan di pinggang. Namun pada masa itu, Batik Cirebon Pekalongan telah menyebar ke berbagai daerah di Nusantara.

Batik Cirebon

Pasang Surut Kehidupan Batik Cirebon

“Kalau dipesan orang Palembang, motifnya dibuat khusus. Begitu juga jika yang memesan orang Medan, warna dan motifnya juga dibuat khusus sesuai permintaan konsumen,” jelas Fatiyah.

Fatiyah menjelaskan, saat itu pemasaran batik hanya sebatas menunggu pesanan dari konsumen. Para pemilik toko dan pedagang dari luar Jawa datang ke Jawa untuk belanja Batik Cirebon di Kota Pekalongan.

Namun pada tahun 1980-an, Batik Cirebon mengalami masa-masa sulit. Fatiyah menuturkan, pada saat itu, penjualan Batik Cirebon sepi karena terdesak batik printing. “Batik Cirebon tradisional, Batik Cirebon asli Kota Pekalongan terpuruk bahkan sempat sampai mati,” kenangnya.

Bahkan, sebagian produsen Batik Cirebon saat itu beralih profesi. “Batik Cirebon tulis yang proses pembuatannya membutuhkan waktu lama tersingkir oleh hadirnya batik printing yang dijual hanya Rp 25.000 perlembar,” sambungnya.

Sambil menerawang ia mengenang. “Pada masa keterpurukan itu, muncul blessing in disguise,” tambahnya.

Batik mulai merambah dunia fashion. Ibu-ibu yang awalnya hanya menggunakan Batik Cirebon sebatas dililit di badan, telah beralih menggunakan pakaian jadi (kain yang telah dijahit) sehingga lebih praktis.

Sejumlah pengusaha batik memproduksi pakaian (batik) jadi dan sebagian telah menjajaki pasar luar negeri. Tobal Batik Cirebon, miliknya, pada masa itu mengekspor pakaian batik tiga kali setahun ke Australia, Eropa dan Amerika. Jejak ini diikuti produsen batik lainnya.

Sejak saat itu, batik Pekalongan mulai menggeliat kembali. Dan, puncaknya saat Unesco menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia. Permintaan batik meningkat tajam. Sejumlah perajin Batik Cirebon kebanjiran pesanan batik dari konsumen yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara.

Kenaikan Harga Bahan Baku

Ironisnya, setelah batik ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda yang dihasilkan Indonesia, justru perajin batik dihantam kenaikan harga bahan baku batik. Gondorukem (resina colophonium) sebagai salah satu bahan campuran lilin untuk membatik, harganya terus melambung.

“Dulu, kenaikan harga bahan baku batik hanya 5-10 perak. Tapi kini, kenaikan harga bahan baku mencapai puluhan ribu,” tegas Fathiyah.

Harga gondorukem pernah mencapai Rp 32.000 perkilogram (2010). Kini, harga gondorukem antara Rp 26.000 hingga Rp 28.00 perkilogram. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, perbandingan harga gondorukem sangat mencolok. Seorang penjual gondorukem di Jalan Hayamwuruk Kota Pekalongan mengatakan, pada kisaran tahun 2009 harga gondorukem hanya Rp 12.000 perkilogram.

Akibat kenaikan harga bahan baku batik, sejumlah produsen batik terpaksa mengurangi pekerja atau menerapkan sistem bergilir untuk menutup tingginya biaya produksi. Bahkan ada produsen yang sudah tidak bisa berproduksi karena tidak bisa membendung kenaikan harga bahan baku itu.

Menanggapi bayang-bayang kehancuran batik Pekalongan itu, Wali Kota Pekalongan M. Basyir Ahmad mendesak Perhutani untuk memprioritaskan gondorukem untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal daripada pasar luar negeri.

“Selama ini, gondorukem lebih banyak diekspor sehingga pasokan pasar lokal berkurang. Akibatnya, harga gondorukem melambung. Kami telah meminta kepada Perhutani untuk lebih memperhatikan perajin batik,” tegasnya.

Sementara itu, untuk melindungi motif-motif batik asli Kota Pekalongan, Pemerintah Kota (pemkot) Pekalongan pada 2004 telah mendaftarkan 96 motif batik ke Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia. Namun, dari 96 motif yang didaftarkan itu, baru sepuluh motif batik yang telah mendapat sertifikat hak cipta motif batik khas Pekalongan.

Data Motif Batik yang telah mendapat hak cipta motif batik:
1. Andang werno
2. Pekalongan modifikasi pitik merak
3. Pekalongan modifikasi merakan
4. Pekalongan modifikasi gurdo
5. Pekalongan modifikasi tanahan
6. Ragam hias kapal kandas gaya pekalongan
7. Buqetan biru putih belanda
8. Buqetan long tanahan banji
9. Terang bulan
10. Ragam hias sekrandingan (Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kota Pekalongan)
(Isnawati/CN27)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *