Batik Cirebon : Motif dan Filosofi Batik Cirebon

4 Oktober 2013, Comments: 0

batik-cirebon-trusmi-blus-jumbo-murahBatik Cirebon : Motif dan Filosofi Batik Cirebon.Busana adalah cerminan identitas, watak, dan kondisi sosial ekonomi pemakainya, juga merupakan indikator moral dan budaya suatu bangsa. Bagi mayoritas masyarakat Cirebon yang beragama Islam, busana selain alat pelindung tubuh yang vital (penutup aurat), juga harus bernilai keindahan dan kesopanan.  Kain batik adalah salah satu busana tradisional Cirebon yang menjadi komoditas industri seiring dengan meningkatnya ekonomi masyarakat di akhir Abad 19 awal abad 20an.

Saat itu Batik Cirebon diproduksi dibeberapa tempat baik dalam kota maupun luar kota Cirebon.  Didalam kota Cirebon batik diproduksi di lingkungan keraton Kasepuhan, keraton Kanoman, dan  keraton Kacirebonan, Kaprabonan, serta kampung Kanduruan yang mayoritas penduduknya etnis Cina. Sedangkan diluar kota Cirebon terdapat para pengrajin batik seperti di daerah Plumbon, Trusmi, Plered, Kalitengah, dan Battembat. Pengrajin batik juga terdapat di daerah Paoman Indramayu dan Cigugur Kuningan. Kini sentra industri Batik Cirebon yang masih bertahan  dipusatkan di desa Trusmi Kabupaten Cirebon, sehingga masyarakat menganggap bahwa Batik Cirebon identik dengan “Batik Trusmi”. Motif batik Cirebon yang populer  diantaranya motif  “Wadasan” dan “Mega Mendung”.  Awalnya inspirasi motif batik berasal dari suasana panorama alam dalam kraton Cirebon.

Trusmi – Cirebon, Desa Adat & Desa Batik
Batik Cirebon Sejarah asal muasal nama  “Trusmi” hingga kini belum dapat dijelaskan dengan pasti  karena dalam tradisi tutur dan tulis masyarakat Cirebon  diceritakan dalam berbagai versi, namun demikian masyarakat Trusmi meyakini hingga kini Mbah Buyut Trusmi, Ki Buyut Trusmi, atau Pangeran Walangsungsang  Cakrabuana yang popular dengan Gelar “Mbah Kuwu Cerbon” adalah Leluhur mereka. Trusmi adalah nama sebuah desa sekaligus sebuah komplek situs pemakaman Ki Buyut Trusmi yang terdapat disana.

Taroorasmie atau Trusmi sebagai sebuah “Sub division Of Cheribon” atau sebuah desa di Cirebon dengan nomor urut 45  telah tercatat dalam arsip wilayah administrasi kolonial Inggris di Cirebon sejak 1815. (ANRI, Cirebon : 39).
Jauh sebelumnya sebagai Komplek Situs Makam Mbah Buyut Trusmi tempat ini mempunyai banyak Cerita tutur turun-temurun diantaranya dua versi cerita sebagai berikut : Versi Sejarah Carruban Kawedar dengan judul “Sambetipun Sajarah Trusmi” menggunakan bahasa Cirebon (terjemahan bebas oleh penyusun).

Batik Cirebon “…Diceritakan setelah syiar Islam telah menyebar keseluruh nusantara pulau Jawa, kemudian Walisongo menyatukan tekad bermusyawarah bertempat di Masjid agung Sang Ciptarasa Cirebon. Kebetulan saat itu Sunan Gunung Jati mempunyai putra sir (putra gaib) yang bernama Bung Cikal.  Pangeran Cakrabuwana “Ki Kuwu Cerbon Kedua” berniat melepas jabatannya sebagai pemimpin atau “umaro”  untuk  menekuni agama sebagai pandita atau “ulama” sekaligus “mong-mong” mendidik Bung Cikal putra Sunan Gunung Jati.  Pangeran Cakrabuwana  membangun padukuhan ke arah baratsekitar tujuh Kilo Meter dari keraton Pakungwati Cirebon, yang kemudian bernama Astana Kramat Trusmi berasal dari sebuah balong kramat yang airnya sangat jernih, dari atas balong hinga dasarnya terlihat kerikil dan pasir yang airnya terus menerus semi “mengalir” sehingga dinamakan “Terussemi” atau “Trusmi”.

Batik Cirebon Versi lain menyebutkan Bung Cikal atau Pangeran Manggarajati yang diasuh oleh Mbah Kuwu Cerbon atau Mbah Buyut Trusmi, sejak kecil telah terlihat kesaktiannya. Salah satu kebiasaan Bung Cikal adalah sering merusak tanaman yang ditanam oleh Mbah Buyut Trusmi, namun yang mengherankan setiap tanaman yang dirusak oleh Bung Cikal segera tumbuh dan bersemi kembali sehingga masyarakat menamakan pedukuhan tersebut Trusmi yang berarti “Terus Bersemi”.

Masih ada beberapa versi kisah masyarakat Cirebon mengenai keberadaan Situs makam Mbah Buyut Trusmi, terlepas dari soal kebenaran berbagai kisah tersebut, yang jelas dalam komplek situs makam Mbah Buyut Trusmi masih terdapat berbagai peningalan yang erat kaitannya dengan kisah tersebut diatas misalnya Makam Mbah Buyut Trusmi, Masjid Kuno, Witana, dan kolam atau “Balong Pakulahan” yang diyakini masyarakat setempat sebagai tempat keramat. Untuk melestarikan keberadaan Situs makam keramat Mbah Buyut Trusmi sampai saat ini masyarakat Trusmi masih menjalankan acara tradisi diantaranya “Selawean” atau Muludan Trusmi puncaknya tanggal 25 Rabiul Awwal atau bulan maulid, “Gantos Sirap” waktunya empat tahun sekali, dan tradisi “Memayu” atau “Gantos Welit” setiap setahun sekali.

Batik Cirebon Paramita R. Abduracman berpendapat Trusmi merupakan tempat tinggal (Ki Gedeng) Panembahan Trusmi, kepala serikat mistis Tariqah, para pengrajin, kaum pria Trusmi, mungkin juga Kalitengah dulu merupakan anggota serikat pengrajin, bagian dari salah satu Tariqah Islam yang mengkhususkan dirinya dalam seni lukis, dimana pembuatan batik merupakan salah satu bagiannya yang terkenal akan corak-corak pesanan “Keratonan” yang mencerminkan falsafah dari serikat Tariqah tersebut yang tersembunyi dalam motifnya yang abstrak. (Abduracman, 1982 : 150).

Pendapat Abduracman tersebut diperkuat oleh hasil penelitian Casta, bahwa Trusmi merupakan salah satu pusat kegiatan Tariqah. Di desa ini pernah berdiam tokoh Tariqah  Qoddiriah wan Naqsabandiyah yang sangat berpengaruh di pulau Jawa, yaitu Syekh Talhah (masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Ki Talko), guru dari Abah Sepuh dan Abah Anom di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya. Keberadaan Syekh Talhah sebagai guru Tariqah Qoddiriah wan Naqsabandiyah di Cirebon adalah tahun 1878, yakni setelah meninggalnya Syekh Ahmad Khatib Sambas. (Casta, 2008 : 66).

Batik Cirebon Menurut laporan Serah Terima Jabatan Residen Cirebon C.J.A.E.T. Hiljee, tanggal 3 Juni 1930 mengenai perdagangan dan kerajinan di Cirebon dijelaskan terdapat perusahaan batik di Desa Trusmi, Karangtengah (Kalitengah), Plered, dan Desa Battembat yang dikelola oleh orang-orang Cina. Di Plered sejak dulu orang Cina menjadi pengusaha dan pedagang batik, pembatikan dikerjakan secara borongan oleh penduduk pribumi, alat-alat pembatikan mereka sewa. Pengusaha-pengusaha batik di Plered menyediakan kain putih (mori), malam (lilin), dan bahan pewarna sebagai modal. Setelah bahan-bahan tersebut menjadi kain batik yang telah jadi, pembatik pribumi itu menjualnya kepada pengusaha menurut harga pasaran dikurangi modal dan sewa peralatan,  sisanya adalah merupakan hak pembatik pribumi sebagai “Upah” membatik.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *