Industri Batik Cirebon Kena Imbas Dolar

15 Oktober 2013, Comments: 0

SOLO, suaramerdeka – Pengaruh jebloknya kurs rupiah terhadap dolar makin dalam ke sejumlah sektor usaha. Tak terkecuali industri Batik Cirebon di Solo yang kini tertekan lantaran mahalnya harga kain belakangan ini.

Seperti disampaikan Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Cirebon Laweyan, Alpha Febela Priyatmono yang menyebut kenaikan harga kain di kisaran 15 persen-20 persen.

Batik Cirebon

Industri Batik Cirebon Kena Imbas Dolar

Kenaikan terjadi untuk hampir semua jenis kain Batik Cirebon. Hal ini dinilai memberatkan bagi kalangan perajin batik di kawasan tersebut. Sebab perajin harus menyiapkan dana lebih besar untuk mendapatkan kain.

“Kenaikan harga tersebut cukup terasa berat. Sejak dolar naik dua minggu lalu, harga kain lansung ikut naik,” ucapnya.

Alpha menegaskan, kain sebagai salah satu bahan utama dalam industri Batik Cirebon memang bukan barang impor. Namun untuk mendapatkan kapas sebagai bahan baku kain memang harus didatangkan dari luar negeri.

“Sebenarnya ada kapas lokal, tapi hasilnya kurang bagus jika dibuat menjadi kain,” imbuhnya.

Hantaman gonjang-ganjing kurs rupiah makin terasa lantaran bahan pelengkap produksi lainnya juga mengalami kenaikan harga sekitar 15 persen. Misalnya bahan pewarna yang diimpor dari India dan Jerman.

Perajin Batik Cirebon tidak mampu berbuat banyak lantaran kondisi ini. Namun Alpha yakin perajin akan mampu bertahan. Bahkan, sampai sekarang ini perajin belum menaikkan harga jual.

Dia berharap kurs rupiah akan kembali menguat dan stabil dalam waktu dekat. Jika rupiah tak kunjung kembali ke posisi semula, dia khawatir minimal bulan depan pihaknya harus mengubah harga jual.
Alpha menegaskan, kain sebagai salah satu bahan utama dalam industri Batik Cirebon memang bukan barang impor. Namun untuk mendapatkan kapas sebagai bahan baku kain memang harus didatangkan dari luar negeri.

“Sebenarnya ada kapas lokal, tapi hasilnya kurang bagus jika dibuat menjadi kain,” imbuhnya.

Hantaman gonjang-ganjing kurs rupiah makin terasa lantaran bahan pelengkap produksi lainnya juga mengalami kenaikan harga sekitar 15 persen. Misalnya bahan pewarna yang diimpor dari India dan Jerman.

Perajin Batik Cirebon tidak mampu berbuat banyak lantaran kondisi ini. Namun Alpha yakin perajin akan mampu bertahan. Bahkan, sampai sekarang ini perajin belum menaikkan harga jual.

Dia berharap kurs rupiah akan kembali menguat dan stabil dalam waktu dekat. Jika rupiah tak kunjung kembali ke posisi semula, dia khawatir minimal bulan depan pihaknya harus mengubah harga jual.
( Astuti Paramita / CN39 / SMNetwork )

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *