Museum, Pasar Grosir, dan Kampoeng Batik Cirebon

13 Oktober 2013, Comments: 0

MUSEUM Batik Cirebon di Jalan Jetayu-yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli-Pasar Grosir, dan Kampoeng Batik Kauman kini menjadi ikon Kota Pekalongan dalam mempromosikan Batik Cirebon.

Batik Cirebon

Museum, Pasar Grosir, dan Kampoeng Batik Cirebon

Ketiga ikon tersebut digadang-gadang bisa memperkuat pencitraan Pekalongan identik dengan Batik Cirebon. Keberadaan museum, pasar grosir, dan kampung Batik Cirebon itu bisa menarik pengunjung dari dalam maupun luar negeri.

Diyakini, potensi ini semakin lama semakin mendapat perhatian dunia, karena museum dilengkapi berbagai produk Batik Cirebon. Tidak sekadar dari Pekalongan, namun beberapa Batik Cirebon di seluruh Indonesia. Tentu, keberadaan museum tersebut mendorong para penggemar Batik Cirebon dan peneliti dari dunia datang ke Kota Pekalongan.

Menurut Sekretaris Umum PBI, Sri Ruminingsih, sejak diresmikan setahun lalu, banyak orang tertarik mengunjungi tempat menampung hasil karya adiluhung itu.

Data dari museum menunjukkan, tiap bulan rata-rata 20 pengunjung luar negeri seperti dari Belanda, Jepang, Argentina, dan Finlandia mendatangi museum itu. Jika dihitung secara keseluruhan, baik pengunjung asing maupun dalam negeri mencapai 15.000 orang.

800 Koleksi
Batik Cirebon, Asmoro Damais, sudah ada 800 koleksi, baik batik kuno maupun batik-batik yang diproduksi sejak zaman kemerdekaan hingga terkini. Namun, tidak semuanya bisa dipajang dalam pameran di museum itu.

Menurut dia, koleksi di museum ini adalah batik yang secara kualitas benar-benar memang bagus dan memiliki nilai sejarah. Antara lain batik itu kuno dan belum ada Batik Cirebon yang sama dan diserahkan ke Museum Batik Cirebon. Karena itu, seleksi batik yang dipamerkan ini sangat ketat.

Saking banyaknya, tidak semua koleksi bisa dipamerkan secara bersamaan di bekas gedung peninggalan Belanda itu. Namun, pada waktu tertentu, seluruh batik yang dipamerkan diganti dengan jenis Batik Cirebon lainnya.

Dengan demikian, museum itu akan tetap menjadi daya tarik selamanya, mengingat koleksinya selain kuno juga terkini. Dari 800 koleksi tersebut, beberapa di antaranya ada yang umurnya sudah 100 tahun, meski jumlahnya tidak banyak. Batik Cirebon itu motifnya laseman yang diperoleh dari Syarifah Nawawi, Minangkabau.

Ikut andil dalam membantu koleksi batik di Museum Batik Indonesia adalah kolektor Minarsih Soedarko, Nian Djoemena, dan beberapa anggota Yayasan Batik Cirebon Indonesia serta yayasan batik lainnya di Indonesia.

Dari berbagai motif batik itu, disediakan dua tempat untuk pameran. Yakni ruang utama hanya untuk batik-batik kuno hingga batik yang diproduksi pada zaman penjajahan Jepang.

Kemudian untuk batik yang diproduksi sejak zaman kemerdekaan sampai sekarang, disediakan tempat di ruang kedua. Dari 800 koleksi batik yang diberikan dari pecinta batik maupun pengusaha itu, menunjukkan adanya perhatian dari pecinta batik di seluruh Indonesia.

Gedung Museum Indonesia itu dibangun dengan memanfaatkan gedung bekas Balai Kota Pekalongan. Gedung itu dipilih karena bangunan itu didirikan pada zaman penjajahan Belanda.

Untuk mendirikan museum itu, Pemkot bersama Yayasan Batik Indonesia Jakarta serta beberapa paguyuban batik sangat mendukungnya, sehingga museum itu terwujud dengan bagusnya. Sedangkan Pasar Grosir Setono, sebagai tempat pemasaran batik, kini juga mulai berkembang. Setiap hari, beberapa bus wisata mampir ke tempat itu, selain mobil-mobil pribadi.

Nah, pada PBI yang berlangsung 1-5 September juga diresmikan Kampoeng Batik di Kauman oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Nantinya diharapkan menjadi kampoeng wisata Batik di Kota Pekalongan.

Dengan demikian, ada harapan Kampoeng Batik itu menjadi satu paket wisata dengan Museum Batik dan Pasar Grosir dalam upaya memperkenalkan produk batik Pekalongan, khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *