Batik Trusmi - Mandela dan filosofi pembuatan batik Indonesia

30 Januari 2014, Comments: 0

mandela-tiap-hari-pakai-batik-cirebonBatik Trusmi – Mandela dan filosofi pembuatan batik Indonesia. Nelson Mandela mengenakan batik Indonesia pada banyak acara-acara resmi, termasuk pada acara penutupan Piala Dunia tahun 2010.

Sugeng mengatakan perkenalan pertama Mandela dengan batik Indonesia terjadi pada tahun 1990 beberapa bulan setelah ia dibebaskan dari penjara Pulau Roben.

Indonesia termasuk salah satu negara pertama yang dikunjungi Mandela sebagai presiden Kongres Nasional Afrika (ANC).

“Pada akhir Oktober 1990–lawatan pertama ke luar negeri, salah satunya adalah Indonesia. Saat itu pemerintah memberikan baju batik khas Indonesia,” kata Sugeng dan menambahkan sejak itu presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan ini sering memakai batik Indonesia.

Dalam pertemuan dengan mantan presiden Suharto pada lawatan itu, Mandela mengenakan batik pemberian pemerintah itu.

Simbol kedekatan dengan Indonesia

“Yang saya tahu (Mandela) suka semua motif, dan filosofi dari pembuatan batik Indonesia inilah yang bisa ditarik dengan kepribadian beliau,” kata Sugeng, yang menjadi notulen saat Mandela bertemu Presiden Suharto.

“Batik mencerminkan kesabaran dan keharmonisan dalam menentukan corak dan warna. Inilah ciri kepribadian Mandela.”

“Kesabaran ini dibuktikan dengan keteguhan hatinya untuk memperjuangkan keseteraan untuk masyarakat Afrika Selatan dan harus dipenjara selama 27 tahun. Penantian 27 tahun ini, akan melemah bila tidak ada kesabaran,” kata Sugeng kepada BBC Indonesia.

Sejak mendapatkan hadiah batik dari Indonesia itu, Mandela terkesan dengan warna dan corak batik dan mulai mengenakannya sebagai simbol kedekatan Indonesia dan Afrika Selatan, kata Sugeng.

Kios batik

“Pernah saya sekali bertemu dengan beliau saat mengadakan kuliah di Johannesburgh, dan beliau masih mengenakan batik Indonesia, usia saat itu 88 tahun — sekitar tujuh tahun lalu, beliau masih sehat,” tambah Sugeng.

Sementara itu Michael Pasaribu -warga Indonesia yang memiliki kios batik Indonesia di Pretoria- mengatakan minat masyarakat Afrika Selatan terhadap batik semakin meningkat terutama sejak Mandela tidak lagi menjabat sebagai presiden.

“Awalnya masyarakat tidak ingin menggunakan batik seperti beliau, karena beliau itu tokoh dan masyarakat segan untuk meniru beliau,” kata Michael yang telah tinggal di Afrika Selatan selama 17 tahun.

“Namun setelah beliau tidak aktif lagi di kantor presiden, banyak yang mulai tertarik dan menanyakan di mana bisa membeli batik,” tambahnya.

Michael mengatakan untuk kedutaan besar Indonesia di Afrika Selatan sering mengadakan bazar untuk menampung minat masyarakat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *