Batik Indonesia - Paradigma Masyarakat Soal Batik Perlu Dirubah

21 Februari 2014, Comments: Komentar Dinonaktifkan pada Batik Indonesia – Paradigma Masyarakat Soal Batik Perlu Dirubah

Batik Indonesia – Penyiar Radio Iwet Ramadhan yang kini menekuni bisnis batik, menyatakan kekagumannya terhadap motif batik tradisional Jawa, yang ternyata memiliki nilai filosofi di luar keindahannya. Hal ini diungkapkannya saat menjadi salah satu pembicara dalam talk show bertajuk “Fabulous Batik of Java” yang di selenggarakan di Galeri Indonesia Kaya(GIK).

“Motif Truntum yang biasadipakaioleh orang tua saat menikahkan anaknya,itu adalah perlamabang cinta. Orang tua mengharapkan agar pernikahan anaknya penuh dengan cinta,” kata Iwet dalam talk show bertajuk “Fabulous Batik of Java”, di GIK, Kamis(13/2).

Dengan perkembangan saat ini adanya gerakan yang mengajak masyarakat untuk mencintai batik, dengan memakai batik sebagai busana kerja maupun untuk tampil modis, namun Iwet menyayangkan kepopuleran batik klasik semak inter geser dengan batik-batik printing yang dari segi harga lebih murah. Corak yang ditawarkan pun tak jarang dipengaruhi oleh budaya asing yang dibawa oleh pedagang asingke Indonesia.

“Batik printing memang tidak masalah, tapi dipastikan kita memperkaya negeri ini dengan membeli batik buatab Indonesia. Karenakan banyak sekali batik printing saatini yang berasaldari China,” katanya.

Karena itu, menurut Iwet adanya paradigma yang salah dan harus diperbaharui mengenai batik di masyarakat. Pemahaman yang salah, menurut Iyet misanya masyarakat menangkap batik asli Indonesia tanpa mempertimbangka nakulturasi budaya dimasa lampau yang turut memperkaya batik.

“Batik adalah proses menggambar dengan malam diatas kain,” katanya.

Batik klasik buatan tangan memang memiliki kualitas yang tidak terbantahkan, namun tentu saja karena mengandalkan tangan manusia sehingga membutuhkan waktu yang relative lama. Namun upah yang didapat oleh para pembatik cendrung tidak sesuai dengan jerih payahnya. Akibatnya, generasi muda enggan untuk mengikuti jejak orang tuanya.

“Generasi mudanya sekarang lebih memilih pekerjaan lain yang upahnya lebih besar, dari pada meneruskan profesi menjadi pembatik yang hasilnya tidak seberapa,” katanya.

Untuk itu dengan mengubah paradigma masyarakat terhadap batik, Iwet mengaharapkan agar dimasa depan produksi batik asli dengan motif klasik dapat berkembang di Indonesia.

Comments are closed.