Batik Indonesia - Gubernur Jatim: Batik Merupakan Harga Diri

13 Juni 2014, Comments: 0

Seorang perempuan melihat koleksi batik milik Any Yudhoyono dalam pameran batik bertajuk The Batik Essays A Collection of Love Stories di Grand Indonesia, JakartaBatik Indonesia – Gubernur Jatim: Batik Merupakan Harga Diri.Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan batik itu merupakan harga diri seperti halnya kalau dulu ke undangan resepsi pernikahan dengan mengenakan batik itu sama dengan mengenakan jas.”Jadi, sekarang kalau masyarakat ada undangan resepsi pernikahan mengenakan jas tidak apa-apa, tapi jika mengenakan Batik Indonesia lebih bagus, artinya lebih mencintai produk dalam negeri,” katanya ketika membuka Pameran Batik, Bordir dan Aksesoris ke-9, di Surabaya, Rabu.

Ia mengemukakan saat ini pemerintah juga terus berusaha menggalakkan masyarakat untuk lebih mencintai produk dalam negeri mengingat sebentar lagi barang-barang luar negeri akan bebas masuk.”Kami juga akan membuat proteksi di pasar, tidak melarang tapi mempersulit syaratnya, karena jika AFTA sudah dibuka, maka banyak barang yang akan masuk,” katanya.

Dari data yang ada, perdagangan antarprovinsi dari Jatim ke-26 provinsi yang lain senilai Rp346 triliun dan yang masuk ke Jatim Rp275 triliun atau sekitar Rp70 triliun lebih berputar di masyarakat Jatim.Produk industri kecil menengah Jatim yang diminati di daerah ini adalah produk fashion dan kerajinan serta beberapa produk lainnya yang menjadi unggulan Jatim.

“Tahun 2010 dari Brunei ke Jatim seminggu sekali, tapi sekarang enam kali dalam seminggu ambil bordir dari Jatim. Perdagangan dalam negeri tahun ini sudah 31 persen lewat Jatim, tahun 2017 diperkirakan meningkat menjadi 50 persen asalkan kualitas produknya dijaga tetap bagus,” katanya.Sementara itu, Ketua Dekranasda Provinsi Jatim Nina Soekarwo atau yang lebih akrab disapa Bude Karwo mengatakan melalui pameran ini memperkenalkan sekaligus mempromosikan 1.350 motif produk Batik Indonesia dari kabupaten/kota se-Jatim.

“Persaingan produk Batik Indonesia dan bordir makin ketat, tetapi hal itu justru makin mendorong kreativitas anak muda lebih bagus. Hal ini luar biasa, selain melahirkan kreativitas, juga melestarikan budaya. Kita bangga dengan produk dalam negeri, khususnya Indonesia, dan lebih spesifik lagi bordir dan Batik Indonesia dari Jatim,” katanya.Permasalahan yang dihadapi pengrajin, banyak pesanan pembatiknya yang kurang, karena itu ke depan mungkin perlu pelatihan yang akan terus ditingkatkan oleh Disperindag dan Departemen koperasi.

“Sebetulnya ada beberapa provinsi lain yang ikut pameran, termasuk Yogyakarta dan Jateng sebagai tempat lahirnya Batik Indonesia. Namun, di Jatim motif batiknya lebih dinamis, sehingga dengan adanya partisipasi dari provinsi lain itu justru menjadi motivasi untuk menghasilkan produk lebih bagus lagi, khususnya bahan dasar,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *